Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 10 Mei 2026
5 Kekurangan Kendaraan Listrik, Masalah Harga Hingga Suku Cadang
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Kendaraan listrik digadang-gadang menjadi alat transportasi masa depan yang ramah lingkungan. Namun, apakah kekurangan kendaraan listrik sama sekali tidak ada? Tentu saja para peneliti masih menemukan sejumlah kendala dalam mengembangkan mobil listrik.
Young People's Trust for the Environment, sebuah organisasi nirlaba di Inggris yang berfokus pada isu-isu lingkungan sejak 1982 menjabarkan sejumlah kekurangan kendaraan listrik yang berpotensi menghambat perkembangannya di masa depan.
1. Bahan Baku Baterai yang Langka
Baterai untuk mobil listrik memerlukan banyak kandungan lithium, sebuah logam paling ringan sebagai bahan bakunya. Saat ini, Chili menjadi negara penghasil lithium terbesar dengan 8.800 ton per tahun.
Pasokan lithium lain bisa didatangkan dari Argentina dan Cina. Sementara Bolivia memiliki cadangan terbesar yang diketahui di dunia. Baru-baru ini penelitian menyebutkan bahwa lumpur Lapindo di Indonesia juga mengandung lithium yang bisa digunakan untuk pembuatan baterai mobil listrik.
2. Membuat Mobil Listrik Justru Menciptakan Lebih Banyak Emisi
Siapa yang menyangka bahwa misi menciptakan mobil listrik yang ramah lingkungan justru akan mendatangkan lebih banyak emisi. Pasalnya, komponen bahan baku pembuatan mobil listrik sebagian besar berasal dari bahan tambang, aktivitas yang selama ini dianggap paling merusak lingkungan.
Kemudian bahan baku harus dimurnikan sebelum dapat digunakan, yang sekali lagi mengeluarkan lebih banyak gas rumah kaca. Efek yang sama juga terjadi saat membuat mobil bensin atau diesel. Pembuatan satu unit mobil tersebut dapat melepaskan sekitar sepuluh ton CO2.
3. Listrik Masih Diciptakan dari Energi Kotor
Mobil listrik yang ramah lingkungan sebenarnya juga ditentukan dari bagaimana kendaraan ini memperoleh listrik sebagai bahan baku mobil. Sayangnya, banyak negara masih mengandalkan batu bara dan sumber energi kotor lain untuk pembangkit listrik mereka.
Seperti diketahui, pembangkit listrik tenaga batu bara memancarkan 800-850 gram CO2 per kWh, sementara pembangkit listrik berbahan bakar gas yang lebih bersih memancarkan 350-400g CO2 per kWh. Menggunakan energi terbarukan, seperti panel surya atau turbin angin, sekitar 36g CO2 dipancarkan per kWh, dengan mempertimbangkan emisi yang dihasilkan selama proses pembuatannya.
Jadi jika sebuah mobil diisi ulang menggunakan energi terbarukan, dampak negatifnya terhadap lingkungan jauh lebih rendah daripada jika diisi menggunakan listrik dari pembangkit listrik tenaga batu bara.
4. Harga Mobil Listrik Lebih Mahal
Harga beli mobil listrik memang cenderung lebih tinggi dibandingkan versi bensin atau diesel dari mobil yang sama. Namun, pengisian bahan bakar cenderung akan jauh lebih murah.
Biaya perawatan mobil listrik juga cenderung lebih murah, karena hanya ada sedikit bagian yang bergerak dan tidak ada filter atau oli untuk diganti. Bagian paling mahal dari mobil listrik hanyalah baterainya.
5. Tidak Bisa Digunakan untuk Berkendara Jauh
Saat ini mobil listrik hanya bisa berjalan rata-rata seratus mil atau 150 km untuk sekali pengisian daya. Ini berarti jika mobil listrik diproduksi massal, perlu juga dipertimbangkan jumlah stasiun pengisian daya yang lebih merata. Di samping itu, kecepatan mobil listrik masih di bawah mobil dengan bahan bakar bensin.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 929 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 772 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 586 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 549 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik