Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 26 Mei 2026
Kisah Emmy, Satu-satunya Anak yang Selamat dari Penembakan
BERITABALI.COM, DUNIA.
Emmy yang berusia tiga tahun menjadi korban selamat saat terjadi peristiwa penembakan massal di Thailand. Ia sedang tidur siang di samping sahabatnya di sebuah pusat penitipan anak di Thailand ketika penyerang masuk membawa pistol dan pisau.
Kelas yang berisi 11 anak berusia tiga tahun semula sibuk menggambar dan menulis. Sekitar pukul 10.00 waktu setempat, para guru mengirimkan foto anak-anak yang tersenyum kepada orang tua mereka.
Dua jam kemudian, pada waktu tidur siang, mantan polisi Panya Kamrab menyerbu gedung. Saksi mata mengatakan dia pertama kali menembak staf, termasuk seorang guru yang sedang hamil delapan bulan. Lalu, memaksa masuk ke masing-masing ruangan dari tiga ruang kelas taman kanak-kanak tersebut.
Melansir BBC, pelaku membunuh semua teman Emmy saat mereka tidur. Belum diketahui dengan pasti bagaimana Emmy bisa selamat. Namun dia ditemukan terjaga, meringkuk di samping mayat teman-teman sekelasnya.
"Dia tidak tahu apa yang terjadi ketika dia bangun," kata Somsak Srithong, kakek Emmy.
"Dia mengira teman-temannya masih tidur. Seorang petugas polisi menutupi wajahnya dengan kain dan membawanya pergi dari pemandangan berdarah," lanjutnya.
Emmy adalah satu-satunya anak yang hidup melalui pembantaian di Nong Bua Lamphu pada Kamis (6/10). Total 37 orang tewas, termasuk istri dan anak tiri penyerang, dan 24 di antaranya adalah anak-anak.
"Saya merasa sangat bersyukur dia selamat. Saya memeluknya erat-erat saat pertama kali melihatnya," kata Somsak.
Sementara ibu Emmy, Panompai Srithong, bekerja di Bangkok selama seminggu. Dia telah diberitahu bahwa semua anak di pusat itu telah meninggal. Tapi, dia merasa yakin bahwa putrinya masih hidup.
"Saya akhirnya mendapat panggilan video dengan Emmy dan dipenuhi dengan kelegaan yang terberkati," katanya.
Akibat penembakan massal, Nong Bua, Lamphu, disebut dipenuhi dengan keluarga yang berduka, dan selama beberapa hari pertama, kakek-nenek Emmy berjuang untuk mengetahui apa yang harus dikatakan sang cucu. Paslanya, Emmy terus menanyakan keberadaan sahabatnya, Pattarawut yang juga berusia tiga tahun.
"Neneknya akhirnya memberi tahu dia bahwa teman-teman sekolahnya semua telah meninggal, bersama dengan gurunya, dan pusat penitipan anak ditutup," kata ibu Emmy.
Sementara itu, upacara pemakaman Buddhis dan doa bagi para korban berlangsung di beberapa kuil di kota itu untuk menandai dimulainya tiga hari berkabung.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 2163 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 2007 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1487 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1374 Kali
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli