Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 26 Mei 2026
Dunia Krisis, IMF Sarankan Bank Sentral Lakukan Ini
BERITABALI.COM, DUNIA.
Dana Moneter Internasional (IMF) mengemukakan bahwa sepertiga ekonomi di dunia telah mengalami resesi atau pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut-turut.
Baca juga:
NATO Siaga Perang Nuklir dengan Rusia
Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas mengatakan ekonomi global terus menghadapi tantangan berat, akibat invasi Rusia ke Ukraina, krisis biaya hidup karena tekanan inflasi yang terus-menerus dan meluas, serta perlambatan di China.
"Perlambatan 2023 akan berbasis luas, dengan negara-negara yang menyumbang sekitar sepertiga dari ekonomi global siap untuk berkontraksi tahun ini atau tahun depan," papar Gourinchas, dalam konferensi pers WEO, dikutip Rabu (12/10/2022).
Gourinchas memperkirakan tiga ekonomi terbesar, Amerika Serikat, China, dan kawasan Euro akan mengalami tekanan. Secara keseluruhan, lanjutnya, guncangan tahun ini akan membuka kembali luka ekonomi yang baru sembuh sebagian pascapandemi.
"Singkatnya, yang terburuk belum datang dan, bagi banyak orang, 2023 akan terasa seperti resesi," ujarnya.
Satu hal yang disoroti Gourinchas adalah tekanan kenaikan harga barang dan jasa. Hal ini, katanya, akan menjadi ancaman paling mendesak bagi kemakmuran saat ini dan ke depannya.
Jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini dapat mengancam pendapatan riil dan merusak stabilitas makroekonomi. Oleh karena itu, dia menilai bank sentral sekarang harus fokus pada pemulihan stabilitas harga, dan kecepatan dari pengetatan moneter yang telah meningkat tajam.
Namun, dia mengingatkan ada risiko pengetatan yang terlalu lemah dan terlalu kuat. Pengetatan yang lemah justru semakin memperkuat inflasi, mengikis kredibilitas bank sentral, dan membuat ekspektasi inflasi tak terkendali.
"Seperti yang diajarkan sejarah kepada kita, ini hanya akan meningkatkan biaya untuk mengendalikan inflasi," kata Gourinchas.
Sementara itu, pengetatan moneter yang agresif bisa memicu ekonomi global masuk ke resesi parah.
"Pasar keuangan mungkin juga berjuang dengan pengetatan (moneter) yang terlalu cepat. Namun, biaya dari kesalahan kebijakan ini tidak simetris. Kredibilitas bank sentral yang diperoleh dengan susah payah dapat dirusak," paparnya.
Pada akhirnya, langkah agresif bank sentral ini hanya akan merusak stabilitas makroekonomi. IMF memandang kebijakan keuangan harus memastikan bahwa pasar tetap stabil.
"Namun, bank sentral tetap perlu berpegang teguh pada kebijakan moneter yang secara tegas berfokus pada penjinakan inflasi," pungkasnya.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 2164 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 2008 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1489 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1375 Kali
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli