Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 3 Oktober 2026
Ahli Gizi IPB: Stunting Juga Berefek pada Perkembangan Otak Anak
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Kondisi stunting adalah masalah kurang gizi yang akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan tinggi badan anak, di mana anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.
Tapi tak hanya hanya mengganggu pertumbuhan dan tinggi badan, stunting juga bisa menyebabkan masalah pada perkembangan otak anak.
"Stunting tidak hanya berefek pada ke tubuh (menjadi) pendek atau kurus saja, tapi juga otak," kata Prof. Sri Anna Marliyati, Ahli Gizi dari Departemen Gizi Masyarakat, FEMA, IPB, Selasa (8/11/22), di Wonosobo, Jawa Tengah.
Berbicara dalam acara "Perjalanan Aksi Bersama Cegah Stunting bersama Danone Indonesia", Sri Anna menjelaskan kondisi tersebut akan membuat anak tidak bisa mencapai kapasitas maksimalnya.
Sebab kerusakan yang terjadi mengakibatkan perkembangan kognitif anak yang tidak bisa diubah (irreversible), sehingga anak tidak akan pernah mempelajari atau mendapatkan sebanyak yang dia bisa.
"Misalnya dia harusnya bisa mempelajari sampai seribu, ini sampai 500 mentok. Tinggi badan mungkin masih bisa diperbaiki, tapi masalah otak tidak bisa dikejar," jelasnya.
Kondisi tersebut memiliki efek jangka pendek seperti terganggu perkembangan otak dan kecerdasan, terganggunya pertumbuhan fisik, dan metabolisme tubuh lemah.
Sedangkan dalam jangka panjang, kemampuan kognitif dan prestasi belajar akan menurun dan memicu penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, obesitas, stroke, diabetes dan lainnya akibat dari metabolisme rendah.
Terdapat berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan stunting antara lain, kurang memperhatikan status gizi ibu selama kehamilan, praktik menyusui atau ASI tidak eksklusif selama enam bulan pertama, praktik pemberian makan pendamping (MPASI) yang tidak tepat hingga pemantauan tumbuh kembang anak yang tidak rutin.
Selain itu, status sosial ekonomi rumah tangga, ketahanan pangan keluarga, minimnya akses air bersih, buruknya fasilitas sanitasi, dan kurangnya kebersihan lingkungan juga menjadi penyebab stunting.
Oleh karena itu, anak-anak yang lahir dan tumbuh dari lingkungan rumah dengan perawatan yang tidak bersih, sanitasi dan persediaan air yang tidak memadai, alokasi pangan dalam rumah yang tidak tepat, dan pendidikan pengasuhan anak yang rendah sangat berpotensi kuat mengalami masalah stunting.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1072 Kali
Dermaga MB 2 Diperbaiki, Antrean Gilimanuk Mengular 400 Meter
Dibaca: 417 Kali
Giliran Anggota Satresnarkoba Polresta Denpasar Terseret Kasus Senpi
Dibaca: 368 Kali
Rumah Warga di Tembuku Bangli Terbakar, Kerugian Rp200 Juta
Dibaca: 331 Kali
Bandara Ngurah Rai Layani 15,5 Juta Penumpang hingga Agustus 2026
Dibaca: 269 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar