Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Jasad Manusia yang Dijadikan Kompos Berisiko Tularkan Penyakit
BERITABALI.COM, DUNIA.
Pakar kesehatan lingkungan Indonesia menjelaskan jasad manusia yang dijadikan kompos seperti di sejumlah negara bagian Amerika Serikat berisiko menularkan penyakit.
"Pengomposan manusia terdapat risiko menularkan penyakit yang dibawa jasad dan tidaklah lazim di agama Islam," kata Profesor Kesehatan Lingkungan Universitas Airlangga Surabaya Ririh Yudhastuti dalam keterangan tertulis, hari ini.
Ririh mencontohkan hewan yang kena penyakit antraks, rabies, atau penyakit ini (lain) itu menguburnya pun kalau orang dulu menggunakan gamping.
"Itu artinya apa? kita mematikan mikroorganisme, parasit atau apa (dan sejenisnya) baru kita kubur. Atau kalau bisa kita bakar atau kremasi. Itu fungsinya mematikan kuman-kuman yang nanti bisa tumbuh pada tanaman," kata dia.
Menurut dia, pengomposan manusia dilakukan dengan meninggalkan tubuh dalam wadah berisikan serpihan kayu dan bahan organik lainnya selama sekitar satu bulan. Kemudian memanfaatkan bakteri untuk menjadi kompos.
Selain itu, kata dia, dari situs Gizmodo, proses penguburan di California membutuhkan tiga galon bahan pembalseman untuk tiap jasadnya seperti formaldehida, metanol, dan etanol.
Sedangkan proses kremasi menghasilkan lebih dari 500 pound (227 kilogram) karbondioksida dari proses pembakaran satu jasad.
Pembakaran itu sendiri menghabiskan energi yang setara dengan dua tangki bensin. Di Amerika Serikat, kremasi menghasilkan sekitar 360.000 metrik ton karbondioksida setiap tahun.
Dia menjelaskan dalam penanganan jasad terinfeksi COVID-19, tingkat penularannya tinggi yakni, jasad tersebut harus dikubur sedalam 3 meter atau lebih serta tidak berada di sekitar sumber air.
"Itu baru satu penyakit, penyakit lain banyak seperti HIV/AIDS dan antraks. Itu bisa menularkan pada tanaman di atasnya. Terus beberapa ayam (burung unta) yang memakan di situ seperti biji-bijian itu ada antraksnya. Walaupun dia tidak terkena antraks, tapi DNA-nya ada (antraks)," ujar dia.
Menurut Ririh, negara bagian seperti Colorado kemungkinan memiliki budaya dan kondisi lingkungan yang mendukung legalisasi metode pengomposan manusia.
"Jadi, mungkin hal semacam itu (pengomposan manusia) biasa di sana. Tanah di sana juga kering jadi tidak banyak ini (unsur hara)," kata dia. [Antara]
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2929 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2050 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2010 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1808 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun