Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 Juli 2026
Melihat Motif Selingkuh Kain Tenun Lombok yang Digemari Ibu-ibu
BERITABALI.COM, NTB.
Kain tenun menjadi salah satu hasil kerajinan tangan khas Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang terpelihara secara turun temurun hingga saat ini.
Para wanita dari suku Sasak, yang merupakan suku asli pulau Lombok, telah menenun sejak zaman dahulu kala. Mengunjungi tempat sentra Tenun lokasi Kebun Ayu dan Gunung Malang yang keduanya berada di Lombok Barat. Bertemu dengan para penenun.
Kemampuan menenun menjadi tradisi para perempuan di desa ini. Sehingga tak heran jika pulau Lombok memiliki banyak sekali motif kain tenun yang unik dan indah.
Mutmaini asal Desa Gunung Malang yang dari gadis suka menenun. Dia katakan ada 2 motif yang saat ini menjadi trend tenun Lombok. Namanya motif Jogang dan Selingkuh. Mendengar nama motif Selingkuh ini, yang terbayang tentu saja aksi pengkhianatan kepada pasangan.
Melihat kain tenun dengan motif selingkuh, seperti melihat bunga-bunga beraneka warna. Beberapa wana kain dipadu-padankan. Indah juga mengawinkan beberapa motif ke dalam selembar kain tenun. Diantaranya motif seroja, motif selaparang rebong, motif siku-siku, motif aluk, motif cakar, motif bulan dan motif bugis.
"Biasanya, enam motif, bahkan sepuluh motif bisa masuk. menyatu menjadi kain tenun motif selingkuh," terang Mutmaini.
Larisnya tenun motif ini, terbukti saat para pendamping dan Ibu-ibu pemerhati penggemar tenun dari rombongan Dekranasda NTB yang datang, Rabu (11/1) langsung memborong habis.
Pada kain tenun, ada puluhan jenis motif. Tapi untuk motif selingkuh, dilakukan pengawinan motif dalam satu wadah kain. Nama motif selingkuh karena populernya ungkapan selingkuh. Baik kepada pasangan, bahkan kepada teman.
Kain tenun motif selingkuh ini, sama seperti kain-kain tenun umumnya yang dibuat sepanjang 4 meter lebih. Dengan lebar 65 cm. Selembar kain, dijual seharga Rp600 ribu. Jika dikombinasikan dengan kain lain, satu kain motif selingkuh bisa menghasilkan empat atau lima baju.
Kain tenun motif selingkuh ini pembelinya se-populer namanya. Pembeli lebih tertarik karena warna – warninya, selain itu, dalam satu kain bisa mendapatkan beragam motif. Berbeda kalau membeli kain dengan motif tertentu, yang didapat hanya satu motif.
Banyaknya motif agar kain tenun menjadi kain tradisional namun tak meninggalkan nunsa modern. Dari motif-motif itulah, sejarah, atau kearifan lokal ditampilkan.
Misalnya motif tunjung, yang bermakna lumbung atau tempat penyimpanan hasil penen. Ada juga selaparang rebong yang terinspirasi dari perjuangan raja Selaparang mempertahankan Lombok dari penjajahan.
Di tempat yang sama, Nur Aziziyah seorang Ibu muda yang suka menenun sejak tahun 2014 berasal dari desa Kebun Ayu Lombok Barat. Nur menyampaikan komitmennya untuk bisa ikut memajukan tenun lokal dan berharap mendapatkan pembinaan. Sehingga. kedepan tenunnya bisa menjadi trend fashion Indonesia bahkan mendunia.
“Karena NTB ini memiliki kekayaan tenun atau songket yang kaya, ini dapat menginspirasi dan menginovasi untuk tren fashion asal kami terus dapat pembinaan dan sering dikunjungi guna jadi penyemangat kami," ucap Nur penuh harap.
Sementara itu Ketua Dekranasda NTB, Niken Saptarini Zulkieflimansyah meminta kepada designer dan pengrajin NTB untuk mengikuti tren fashion karena hal ini yang bisa memenangkan persaingan di pasar. Hal ini disampaikannya pada kunjungan ke sentra Tenun Lombok Barat, Rabu (11/1)
“Saat ini pasar selalu melihat tren, untuk memenuhi keinginan pasar seperti model fashion dari produk yang dihasilkan perajin kain tenun harus bisa menyesuaikan,” pinta Bunda Niken sapaan Ketua Dekranasda NTB.
Apalagi NTB memiliki potensi kekayaan warisan budaya yang berlimpah. Mulai dari tenun, sarung, songket, yang dirancang menjadi fashion.
“Seperti model pakaian, tas, sepatu, hijab dan banyak produk pernak-pernik lainnya,” jelas Ketua TP PKK NTB ini.
“Kita tidak ingin kekayaan budaya seperti tenun, hanya kita yang nikmati sendiri, tapi harus lebih daripada itu, tenun ini dapat dipakai semua kalangan bahkan dunia. Yang terpenting akan menjadi warisan anak dan cucu kita selanjutnya,” tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/lom
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3896 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2965 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2053 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2026 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1812 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun