Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 19 September 2026
Ini Nasib Penjual Kartu Perdana Usai Semua HP Ganti eSIM
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Sejumlah operator seluler Indonesia saat ini mulai mengadopsi eSIM sebagai pengganti kartu SIM fisik. Namun dengan semakin umumnya penggunaan eSIM, apakah akan menghilangkan profesi penjual kartu perdana?
Baca juga:
Banyak Pengguna iPhone Ganti HP Xiaomi 13
Salah satu operator seluler yang telah meluncurkan eSIM adalah Indosat pada akhir tahun lalu. Sejauh ini penjualan masih dilakukan di sejumlah gerai Indosat, termasuk di kantor pusatnya di Jakarta.
Director & Chief Regulatory Officer IOH, M. Danny Buldansyah menjelaskan keberadaan eSIM tak akan mengganggu ke penjual kartu perdana. Karena banyak HP yang masih mendukung penggunaan Sim Card.
Selain itu, pengembangan eSIM nantinya mungkin juga akan mengubah penjualan di masyarakat. Termasuk dijual online dan penjual SIM Card jadi ikut menjual eSIM.
"Tentunya penjual selalu beradaptasi. Tadinya jualan Sim Card jadi jualan eSIM. Kalau dibilang mengganggu apa enggak, itu enggak ada. Menurut saya substitusi akan berevolusi," kata Danny ditemui di kantor Indosat Ooredoo Hutchison, beberapa hari lalu.
Dia mengatakan pengguna eSIM masih bergantung dengan keberadaan handset pendukungnya. Sejauh ini masih terbatas pada handphone di kelas high-end.
Hal itulah yang membuat ruang untuk penjualan kartu perdana masih besar. Saat ini, perusahaan juga masih dalam masa perkenalan produk.
"Tergantung handsetnya berapa cepat dan murah yang bisa eSIM. Kalau handset low end sudah bisa eSIM menurut saya bisa aja," kata dia.
Operator lain yang juga telah meluncurkan eSIM adalah XL Axiata. Ditemui di Jakarta, Senin malam (11/4), Presiden Direktur XL Axiata, Dian Siswarini juga menjelaskan eSIm jadi jawaban untuk kenaikan harga SIM Card. Perang Rusia-Ukraina ternyata memicu kenaikan harga tersebut.
"Sumber membuat chip 55 persen dari Ukraina. Kenapa jadi mahal? Neon yang membuat chip itu adanya dari Ukraina. Setelah perang dari Rp1.500 naik harganya bisa Rp7.000- Rp8.000 untuk produksi. Kalau ada eSIM mengurangi COGS (harga pokok penjualan) mengurangi biaya berjualan," jelas Dian.
Selain itu, eSIM juga berdampak pada pelanggan yang akan mendapatkan pengalaman baru. "Buat pelanggan lebih enak seamless dan full digital. Dari beli dan segala macem kalau hilang tinggal download," ungkapnya.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 6980 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5613 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3517 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2372 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan