Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 19 September 2026
Sekutu Putin Ngamuk, Ingin 'Cerai' dengan Aliansi Rusia
BERITABALI.COM, DUNIA.
Kemarahan masyarakat Armenia terhadap Rusia meningkat. Tidak sedikit warga negara sekutu Presiden Vladimir Putin itu yang menyebut Moskow bukan lagi teman mereka.
Fenomena ini dipicu invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 lalu. Serangan Putin itu mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh negara bekas Soviet dan mendorong mitra Moskow untuk mencari sekutu di tempat lain.
Artur Sargsyan, seorang filolog berusia 26 tahun, mengatakan Rusia adalah mitra yang tidak dapat diandalkan dan Armenia harus mencari sekutu di tempat lain.
"Saya memimpikan suatu hari ketika Armenia meninggalkan Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) dan pengaruh Rusia," kata Sargsyan, mengacu pada pakta regional yang dipimpin Moskow, mengutip AFP, Senin (17/4/2023).
"Rusia dan CSTO tidak membantu Armenia selama masa yang sangat sulit," tambahnya, merujuk pada kelambanan blok keamanan dalam menghadapi konflik dengan musuh bebuyutan Azerbaijan.
Sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, negara kecil Kaukasus yang berpenduduk sekitar tiga juta orang ini mengandalkan Rusia untuk dukungan militer dan ekonominya. Negara ini menjadi tuan rumah pangkalan militer Rusia dan banyak orang di negara itu berbicara bahasa Rusia.
Tapi kini banyak orang di Armenia mengatakan tidak bisa memaafkan Moskow yang dianggap melalaikan tanggung jawabnya untuk mempertahankan negara mereka secara militer melawan Azerbaijan yang bersekutu dengan Turki.
Sebagai informasi, Armenia dan Azerbaijan, kedua negara Kaukasus, telah berperang dua kali untuk menguasai daerah kantong Nagorno-Karabakh yang disengketakan. Dalam konflik terbaru pada tahun 2020, Armenia kalah dan kehilangan wilayah yang telah dikuasainya selama bertahun-tahun.
Kekesalan terhadap Moskow, yang terhambat di Ukraina, semakin meningkat setelah Azerbaijan memblokir satu-satunya jalur darat antara Karabakh dan Armenia pada pertengahan Desember.
"Armenia adalah negara kecil dan harus bergabung dengan blok Barat, sebuah aliansi yang akan menerima bantuan nyata," kata warga Yerevan bernama Arpine Madaryan, guru bahasa Inggris berusia 42 tahun.
"Kita harus keluar dari CSTO. Mereka tidak membantu kita, mereka bukan teman kita," tambahnya.
Selama enam minggu pertempuran yang merenggut ribuan nyawa pada musim gugur 2020, Turki mendukung Azerbaijan secara diplomatis dan militer, sementara Armenia dibiarkan sendirian menghadapi musuh yang jauh lebih kuat. Kremlin disebut hanya melakukan intervensi secara diplomatis.
Putin menengahi kesepakatan gencatan senjata yang membuat Yerevan menyerahkan wilayah yang telah dikuasainya selama beberapa dekade, dan Rusia mengerahkan penjaga perdamaian untuk mengawasi gencatan senjata yang rapuh. Namun di Armenia, kesepakatan itu dipandang sebagai penghinaan nasional.
Pada Januari, Armenia membatalkan rencana untuk menyelenggarakan latihan CSTO, tetapi sejauh ini menolak untuk keluar dari pakta tersebut sama sekali. Perdana Menteri (PM) Armenia Nikol Pashinyan pun pernah menyatakan bahwa pihaknya akan sangat senang menerima bantuan dari musuh Rusia seperti AS dan Jerman.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 6980 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5613 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3517 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2372 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan