Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Geger Dubes Cina Bikin Ulah, Tiga Negara Eropa Ini 'Ngamuk'
BERITABALI.COM, DUNIA.
Cina mengatakan bahwa pihaknya menghormati dan mengakui status negara berdaulat seluruh negara bekas Uni Soviet, Senin (24/4/2023).
Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah duta besar Cina untuk Prancis membuat sejumlah negara di Eropa 'ngamuk' akibat mempertanyakan kedaulatan negara-negara tersebut.
"Cina menghormati status negara berdaulat dari republik yang berpartisipasi setelah pembubaran Uni Soviet," tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Mao Ning, dikutip dari AFP, Senin (24/4/2023).
Mao mengatakan, Cina sepenuhnya menghormati kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas teritorial semua negara dan menjunjung tinggi tujuan dan prinsip Piagam PBB.
"Setelah runtuhnya Uni Soviet, Cina adalah salah satu negara pertama yang menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara terkait," ujar Mao.
"Sejak menjalin hubungan diplomatik, Cina selalu berpegang pada prinsip saling menghormati dan kesetaraan untuk mengembangkan hubungan persahabatan dan kerja sama bilateral," kata Mao.
Sebelumnya, Duta Besar Cina untuk Prancis, Lu Shaye memicu kehebohan setelah menyatakan bahwa negara-negara yang muncul setelah jatuhnya Uni Soviet tidak memiliki status efektif di bawah hukum internasional. Ini karena tidak ada perjanjian internasional yang menegaskan status mereka sebagai negara berdaulat.
Dilaporkan, pernyataan tersebut tidak hanya merujuk ke Ukraina, tetapi juga ke seluruh bekas Uni Soviet yang muncul sebagai negara merdeka setelah jatuhnya Uni Soviet pada 1991, termasuk anggota Uni Eropa (UE).
Komentar Lu pun sontak memicu gelombang kemarahan di seluruh Eropa dan membuat tiga negara baltik Uni Eropa, yakni Estonia, Latvia, dan Lithuania memanggil perwakilan Cina untuk menjelaskan pernyataan tersebut.
Bahkan, Menteri Luar Negeri Lithuania, Gabrielius Landsbergis turut berkomentar melalui akun Twitternya.
"Jika ada yang masih bertanya-tanya mengapa Negara-negara Baltik tidak mempercayai Cina untuk 'memperantarai perdamaian di Ukraina', inilah duta besar Cina yang berpendapat bahwa Krimea adalah Rusia dan perbatasan negara kita tidak memiliki dasar hukum," ucap Landsbergis.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell mengatakan bahwa pernyataan itu tidak dapat diterima. Namun, ia juga menambahkan bahwa UE hanya dapat menganggap pernyataan itu tidak mewakili kebijakan resmi Cina.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5917 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4639 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2604 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2260 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2215 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan