Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Tak Peduli Nego Gencatan Senjata, Netanyahu Bakal Terus Gempur Rafah
beritabali.com/cnnindonesia.com/Tak Peduli Nego Gencatan Senjata, Netanyahu Bakal Terus Gempur Rafah
BERITABALI.COM, DUNIA.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan pasukan Israel akan terus menggempur Rafah Jalur Gaza Palestina terlepas dari ada gencatan senjata yang disepakati atau tidak.
Pernyataan itu muncul saat Netanyahu wawancara dengan dengan CBS News dan dirilis pada Minggu (25/2). Ia yakin Israel akan mencapai kemenangan total usai operasi Rafah dimulai.
Kemenangan total, lanjut dia, akan tercapai dalam kurun waktu hitungan pekan.
"Itu harus diselesaikan. Karena kemenangan mutlak adalah tujuan kami dan kemenangan akan diraih," ujar Netanyahu, dikutip New York Times, Minggu (25/2).
Lebih lanjut, Netanyahu mengatakan jika gencatan senjata tercapai pergerakan ke Rafah akan "sedikit tertunda."
Sementara itu, sejumlah pejabat Israel mengatakan pertempuran di Rafah bisa terjadi saat Ramadan. Bulan suci bagi warga Muslim ini akan dimulai kemungkinan pada 10 Maret.
Israel belakangan ini juga menyatakan akan mengevakuasi warga dari Rafah ke tempat yang lebih aman.
Selama bertahun-tahun, Ramadan menjadi momen kritis bagi warga Palestina dan Israel. Di masa-masa tersebut, biasanya pasukan Zionis akan menyerang kompleks Masjid Al Aqsa hingga menembaki jamaah yang beribadah.
Dari kejadian itu akan muncul perlawanan dan memicu konflik lalu dimanfaatkan pihak tertentu dan berkepanjangan.
Rencana Israel menyerang Rafah saat Ramadan memicu kecaman dari berbagai pihak termasuk Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi mengingatkan dampak bencana jika pertempuran terus berlanjut saat Ramadan di Gaza.
"Itu akan menempatkan wilayah dalam risiko ledakan," ujar dia.
Sementara itu, penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Jake Sullivan, kembali mendesak agar Israel berhati-hati.
"Kami tidak percaya bahwa sebuah operasi, sebuah operasi militer besar, harus dilakukan di Rafah kecuali ada rencana yang jelas dan dapat dilaksanakan untuk melindungi warga sipil," kata Sullivan saat wawancara dengan NBC.
Dia lalu berujar, "Untuk membuat mereka aman dan untuk memberi makan, pakaian dan rumah bagi mereka - dan kami belum melihat rencana seperti itu."
Israel melancarkan agresi ke Palestina pada 7 Oktober. Mereka juga mendeklarasikan melawan Hamas.
Imbas serangan tersebut, lebih dari 29.000 orang tewas dan ratusan ribu rumah hancur.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5934 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2618 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2275 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan