Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Bali Krisis Air Bersih, Pakar Lingkungan Serukan Aksi Nyata
Peringatan Hari Air se-Dunia
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Dalam peringatan Hari Hutan dan Hari Air Sedunia, isu krisis air di Bali semakin menjadi perhatian. Pakar lingkungan dan pertanian organik, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., bersama aktivis lingkungan dari Paiketan Krama Bali dan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana, membahas masalah ini dalam webinar bertajuk "Air dan Kehidupan," Sabtu (22/3/2025).
Fakta menunjukkan bahwa kondisi air di Bali kian memprihatinkan. Sungai (Tukad) Ayung yang menjadi sumber air bagi PDAM Kota Denpasar dan Badung mengalami penurunan kualitas, bahkan bercampur pasir. Selain itu, empat danau utama di Bali mengalami penurunan volume akibat sedimentasi dan polusi.
Hutan Adalah Sumber Air, Kerusakan Hutan Memperparah Krisis
Dalam paparannya, Prof. Kartini menegaskan bahwa hutan adalah "ibu" dari air dan kehidupan. Ia mengingatkan bahwa tanpa hutan, suplai air akan berkurang drastis.
"Jika krisis air ini tidak segera mendapat perhatian serius, masa depan generasi mendatang akan sangat sulit," sebutnya.
Selain itu, keberlanjutan Subak sebagai warisan budaya dunia juga terancam. Dalam video yang viral, budayawan Sugi Lanus bahkan memprediksi bahwa dalam 35 tahun ke depan, Subak di Bali akan punah jika konversi lahan pertanian terus dibiarkan.
Dampak Buruk Krisis Air
Kartini menjelaskan bahwa air memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, mulai dari menjaga fungsi organ tubuh hingga menjadi sumber utama pertanian. Namun, deforestasi dan eksploitasi alam menyebabkan krisis air semakin parah.
Menurut data, sejak 2011 Bali sudah mengalami defisit air. Sementara itu, danau-danau di Bali berisiko tercemar dan bahkan menghilang, seperti yang sudah terjadi di berbagai belahan dunia.
"Kenapa para pejabat di Bali belum berteriak? Apakah karena masih ada air tanah?" ujar Kartini dengan nada prihatin.
Alih Fungsi Lahan dan Regulasi yang Lemah
Nyoman Merta, Direktur Eksekutif Paiketan Krama Bali, mengungkapkan bahwa setiap tahun sekitar 2.000 hektar lahan sawah di Bali dikonversi menjadi bangunan. Sistem perizinan online OSS mempermudah investor merusak hutan dan lahan pertanian tanpa kendali.
Beberapa regulasi yang seharusnya melindungi lingkungan, seperti UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan Perda No. 9 Tahun 2012 tentang Subak, dinilai kurang efektif karena lemahnya implementasi di lapangan.
Seruan untuk Bertindak: Jaga Mata Air, Bukan Air Mata
Prof. Kartini menyerukan kepada pemimpin Bali untuk segera bertindak dalam menangani krisis air. "Saya mengajak para pemimpin dan kita semua untuk mewariskan mata air kepada anak-cucu, bukan air mata," katanya.
Senada dengan itu, Dr. I Njoman Sutedja, aktivis Paiketan Krama Bali, menegaskan pentingnya aksi nyata untuk menyelamatkan lingkungan. Ia mengajak semua pihak bersatu dalam gerakan penyelamatan air dan alam Bali.
Tanpa langkah konkret, ancaman krisis air di Bali bukan sekadar wacana, melainkan kenyataan yang akan dirasakan oleh generasi mendatang.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3815 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1760 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang