Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 26 Juni 2026
Pakar UGM Ingatkan Tata Ruang Jadi Kunci Mitigasi Banjir Bandang di Bali
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Peristiwa banjir bandang yang melanda Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada September 2025 memantik peringatan serius bagi masyarakat dan pemerintah.
Meski terjadi di tengah musim kemarau, curah hujan ekstrem yang mencapai lebih dari 300 mm dalam sehari, sebagaimana dilaporkan BMKG, menjadi pemicu utama musibah tersebut.
Baca juga:
Tutupan Hutan di Denpasar Tinggal 2 Persen, Menteri LH: Begitu Hujan Deras Dipastikan Banjir
Fenomena alam ini sekaligus membuka diskusi tentang kesiapan tata ruang, infrastruktur, serta masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.
Guru Besar Bidang Geomorfologi Lingkungan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Djati Mardiatno, menegaskan kombinasi hujan ekstrem dan berkurangnya tutupan lahan menjadi faktor utama banjir bandang di Bali dan NTT.
“Berkurangnya hutan yang berubah menjadi area terbangun membuat air hujan lebih banyak menjadi aliran permukaan daripada masuk ke dalam tanah. Aliran permukaan yang besar inilah yang dapat memicu banjir bandang,” jelasnya, Rabu (17/9).
Djati menilai tantangan penanganan banjir bandang tidak hanya luasnya wilayah terdampak, tetapi juga kerentanan objek vital perkotaan. Karena itu, solusi jangka panjang harus berupa penataan tata ruang yang tegas.
“Kita harus memperbanyak ruang terbuka hijau agar air hujan bisa meresap ke tanah, membatasi konversi lahan hutan, serta memastikan sungai tidak tersumbat sampah agar saluran air berfungsi optimal,” tambahnya.
Senada dengan itu, pakar perencanaan kota Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Bakti Setiawan, Ph.D., menekankan banjir tidak semata faktor alam, melainkan juga ulah manusia.
“Ada faktor eksternal berupa perubahan iklim, tetapi ada juga faktor internal yaitu tata ruang dan perkembangan kota yang tidak terkontrol. Jadi tantangan utamanya adalah penataan ruang dan kota yang lemah dalam mengantisipasi risiko bencana,” ujarnya.
Bakti menegaskan bahwa strategi ke depan harus berbasis pengendalian pembangunan kota dan mitigasi bencana. Selain itu, penguatan komunitas lokal menjadi fondasi penting.
“Peningkatan ketangguhan warga melalui penguatan social capital, baik secara struktural maupun kultural, perlu dilakukan agar masyarakat lebih siap menghadapi bencana,” imbuhnya.
Kedua pakar itu sepakat, menghadapi cuaca ekstrem membutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Pemerintah daerah harus menyiapkan rencana kontinjensi sekaligus menegakkan aturan tata ruang. Akademisi berperan dalam riset, pemetaan, dan sosialisasi, sementara masyarakat perlu disiplin menjaga lingkungan.
Dari langkah sederhana seperti membuat sumur resapan, biopori, hingga tidak membuang sampah ke sungai, kontribusi warga akan sangat menentukan. Sebab, bencana bukan hanya persoalan alam, melainkan juga cerminan bagaimana manusia mengelola ruang hidupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun