Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Ekosistem Ikan Lemuru di Selat Bali Terancam, Peneliti UB Beberkan Fakta

Sabtu, 27 September 2025, 20:10 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/merdeka.com/Ekosistem Ikan Lemuru di Selat Bali Terancam, Peneliti UB Beberkan Fakta.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Ekosistem ikan lemuru di Selat Bali kini berada dalam kondisi rawan. 

Hasil penelitian tim Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) yang dipimpin Dr. Ledhyane Ika Harlyan mengungkapkan, keberadaan lemuru terancam akibat penggunaan alat tangkap nelayan dan distribusi daerah tangkap yang terus menekan populasi.

Minimnya ekosistem lemuru akan berdampak pada keberlangsungan spesies Endangered, Threatened, and Protected (ETP) yang hidup di perairan Selat Bali.

Pada aspek alat tangkap, mayoritas nelayan menggunakan pukat cincin pelagis kecil dan jaring insang yang bersifat selektif. Meski interaksi dengan spesies dilindungi masih terbatas, tekanan terhadap populasi lemuru tetap besar.

Sementara distribusi daerah tangkap juga menimbulkan ancaman. Lokasi penangkapan lemuru tersebar di area yang sebagian besar berdekatan dengan habitat utama spesies ETP, sehingga berpotensi memengaruhi keberadaan biota dilindungi tersebut.

Sebagai tindak lanjut, tim peneliti merekomendasikan penyesuaian alat tangkap sesuai PERMEN KP No. 36 Tahun 2023, memperkuat koordinasi pengelolaan antara Jawa Timur dan Bali terkait armada, kuota tangkapan, serta zonasi penangkapan. Peneliti juga menekankan pentingnya forum pengelolaan perikanan lemuru yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, hingga pelaku usaha.

 

Dekan FPIK UB, Prof. Dr.Sc. Asep Awaludin Prihanto, S.Pi., M.P., menegaskan hasil riset ini menjadi pijakan penting dalam pengelolaan berkelanjutan.

“Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan lembaga internasional adalah kunci menjaga keberlanjutan perikanan Indonesia,” ujarnya.

Kajian ini dipaparkan dalam acara Kajian Spesies Endangered, Threatened, and Protected (ETP) di Selat Bali yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur di Surabaya, Rabu (24/9/2025).

Acara tersebut dihadiri pemangku kepentingan seperti DKP Jawa Timur, DKP Bali, Marine Stewardship Council (MSC), perguruan tinggi, serta perwakilan pelabuhan perikanan utama PPP Muncar (Banyuwangi) dan PPN Pengambengan (Jembrana).

Dalam kesempatan itu, FPIK bersama MSC, DKP Jawa Timur, dan DKP Bali menandatangani kerja sama strategis untuk mendukung keberlanjutan perikanan lemuru di Selat Bali. (sumber: prasetya.ub.ac.id)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami