Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Bibit Siklon Tropis Hayley Picu Cuaca Ekstrem, Bali Diminta Waspada

Senin, 29 Desember 2025, 16:56 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok beritabali/ilustrasi/Bibit Siklon Tropis Hayley Picu Cuaca Ekstrem, Bali Diminta Waspada.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi Bibit Siklon Tropis 96S telah berkembang menjadi Siklon Tropis Hayley. 

Masyarakat di wilayah Bali diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak cuaca ekstrem yang ditimbulkan.

BMKG mencatat perubahan bibit siklon menjadi siklon tropis terjadi pada Senin (29/12) pukul 01.00 WIB. Berdasarkan pemantauan hingga pukul 07.00 WIB di hari yang sama, pusat Siklon Tropis Hayley terdeteksi berada di Samudra Hindia, tepatnya di selatan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

"Siklon Tropis Hayley akan meningkat menjadi kategori 2 dengan pergerakan ke arah tenggara menjauhi wilayah Indonesia menuju perairan barat Australia dalam periode 24 jam ke depan," demikian informasi BMKG yang disampaikan di Instagram, Senin (29/12).

Meski bergerak menjauhi Indonesia, BMKG menegaskan dampak tidak langsung siklon ini tetap perlu diwaspadai. Dalam kurun waktu 24 jam ke depan hingga Selasa (30/12) pukul 07.00 WIB, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang berpotensi terjadi di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Selain itu, sistem Siklon Tropis Hayley juga berpotensi memicu gelombang laut tinggi dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter di Perairan selatan Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Perairan selatan Pulau Bali hingga Pulau Timor, Laut Sawu, serta Selat Bali-Lombok-Alas bagian selatan.

BMKG juga memperingatkan potensi gelombang lebih tinggi, mencapai 2,5 hingga 4 meter, yang berpeluang terjadi di Samudra Hindia selatan Bali bagian tengah hingga wilayah NTT.

Dalam Ikhtisar Cuaca Harian, BMKG menjelaskan hasil analisis iklim global menunjukkan kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) berada pada kategori negatif. Nilai Southern Oscillation Index (SOI) tercatat -2,1 dan indeks NINO 3.4 sebesar -0,91, yang dinilai signifikan terhadap peningkatan aktivitas konvektif di wilayah Indonesia bagian timur.

Sementara itu, Dipole Mode Index (DMI) berada pada angka +0,09 yang mengindikasikan tidak adanya aliran massa udara dari Samudra Hindia timur Afrika menuju Indonesia bagian barat.

BMKG juga memproyeksikan curah hujan pada periode Desember Dasarian III 2025 hingga Januari Dasarian II 2026 di sejumlah wilayah Indonesia berada pada kategori rendah hingga menengah, berkisar antara 20 hingga 150 milimeter per dasarian.

Berdasarkan pemodelan filter spasial Madden-Julian Oscillation (MJO) pada 29–30 Desember 2025, BMKG menyebut fenomena ini diperkirakan aktif di wilayah Laut Andaman, Samudra Hindia barat Aceh, perairan utara Sabang, Selat Malaka, Laut Natuna, serta Sumatra Utara bagian utara, yang berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan.

Kombinasi MJO dengan Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator turut disebut berperan dalam meningkatkan aktivitas konvektif dan peluang hujan di sejumlah wilayah Indonesia. (sumber: cnnindonesia.com)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami