Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Warga Lokal Terpinggirkan, Isu Geopolitik di Bali Mengemuka
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Isu geopolitik di Bali kian mengemuka di tengah derasnya arus wisatawan dan warga negara asing (WNA) yang dinilai mulai mengubah wajah Pulau Dewata.
Fenomena warga lokal yang merasa menjadi “asing” di tanah sendiri hingga maraknya penguasaan lahan oleh asing kini tidak hanya menjadi perbincangan publik, tetapi juga dikaji secara akademik di tingkat nasional.
Isu sensitif tersebut diangkat oleh tiga mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), yakni Zulfiqar Syauqi, Josephine Alexandra Tandean, dan Desak Nyoman Savitri Indiraswari. Ketiganya sukses meraih juara 1 dalam ajang Indonesia Foreign Policy Review (IFPR) yang diselenggarakan Universitas Indonesia (UI), Senin (19/1/2026).
Prestasi tersebut diraih setelah tim UNAIR mengungguli ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dengan gagasan kritis mengenai dinamika geopolitik pariwisata di Bali.
“Saya dan tim datang tanpa ekspektasi apapun, kemenangan ini menjadi suatu momen luar biasa bagi kami. Kami bangga sekaligus tidak berekspektasi bisa sampai di tahap ini. Melawan peserta dari berbagai kampus di Indonesia dengan berbagai gagasan yang luar biasa menjadi salah satu tantangan bagi kami,” ungkapnya.
Zulfiqar menjelaskan, riset yang mereka ajukan berangkat dari realitas Bali sebagai destinasi wisata global yang sangat bergantung pada kehadiran turis dan investor asing. Ketergantungan tersebut, menurutnya, memicu persoalan baru terkait kepemilikan tanah dan ruang hidup masyarakat lokal.
“Kami menyoroti semakin banyak tanah di Bali yang WNA kuasai akibat adanya praktik Nominee agreement (pinjam nama) dan sewa jangka panjang. Perebutan ruang hidup tidak hanya oleh aktor negara saja, tapi masyarakat grassroots juga merasakan. Geopolitik bukan cuma ada di panggung negara tapi juga ada di masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, adanya celah hukum dalam regulasi kepemilikan hunian bagi orang asing menjadi faktor penting yang mendorong maraknya praktik manipulasi hukum. Kondisi ini membuka ruang bagi WNA untuk menguasai lahan di Bali dengan berbagai skema.
“Dalam hal ini muncul segregasi sosial yang membuat warga lokal merasa asing untuk memasuki wilayah tertentu seperti Ubud dan Canggu yang banyak dikuasai asing. Akhirnya, transformasi ini mempertegas pergeseran geopolitik pariwisata di Bali dari ‘Tourism for Bali” menjadi “Bali for Tourism’,” jelasnya.
Meski mengangkat isu kompleks dan sensitif, Zulfiqar menyebut proses kompetisi berjalan relatif lancar. Tantangan utama justru datang dari pengaturan waktu di tengah kesibukan masing-masing anggota tim serta proses wawancara dengan 10 narasumber asal Bali yang menjadi basis riset mereka.
“Kedepannya paper ilmiah yang kami lombakan ini akan publikasi dalam jurnal ilmiah. Sehingga bukan hanya memenangkan kompetisi, namun juga menambah publikasi ilmiah kami. Semoga hasil riset ini dapat memberikan manfaat dan perspektif baru dalam pengambilan kebijakan terhadap kepemilikan tanah oleh WNA di Bali,” pungkasnya. (sumber: unair.ac.id)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3874 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2080 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2007 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1919 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1782 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun