Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Insinerator Rp4 Miliar Berhenti Beroperasi, Karangasem Terancam Krisis Sampah

Jumat, 6 Februari 2026, 13:28 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Insinerator Rp4 Miliar Berhenti Beroperasi, Karangasem Terancam Krisis Sampah.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, KARANGASEM.

Baru setahun beroperasi, mesin insinerator yang digadang-gadang menjadi solusi penanganan sampah residu di TPA Linggasana, Kabupaten Karangasem, justru berhenti beroperasi. Padahal, pengadaan alat pembakar sampah bersuhu tinggi tersebut menelan anggaran hingga Rp4 miliar.

Pengoperasian insinerator resmi dihentikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karangasem sejak sepekan terakhir. Penghentian dilakukan menyusul adanya penyegelan alat serupa di Kabupaten Badung.

“Kami menghentikan sendiri operasional alat tersebut sebelum disegel, karena di Badung sudah disegel. Alatnya sama, dan menurut informasi disegel karena tidak lulus uji emisi,” ujar Kepala DLH Karangasem, Drs. I Nyoman Tari, saat ditemui Jumat (6/2/2026).

Dengan tidak beroperasinya incinerator, persoalan sampah di Karangasem kembali menemui jalan buntu. Situasi ini semakin kompleks mengingat rencana pembangunan TPA baru di Desa Datah, Kecamatan Abang, mendapat penolakan dari warga setempat. Kondisi tersebut membuat DLH Karangasem harus mencari solusi alternatif dalam jangka pendek.

Sebagai langkah sementara, DLH Karangasem merencanakan rehabilitasi TPA Linggasana dengan luasan sekitar 2,5 hektare. Rehabilitasi dilakukan melalui pengerukan dan pengayakan material sampah yang telah ditimbun selama kurang lebih 10 tahun terakhir.

“Material hasil ayakan rencananya akan kami berikan kepada masyarakat yang membutuhkan, misalnya untuk mengurug lahan bekas galian C,” jelas Tari.

Ia menambahkan, jika rehabilitasi TPA Linggasana berjalan sesuai rencana, daya tampung TPA tersebut diperkirakan masih mampu menampung sampah residu hingga lima tahun ke depan.

“Untuk sementara, sampah yang masuk akan dipilah. Sampah organik dicacah, plastik diupayakan dipilah oleh pemulung agar yang masih bernilai bisa dimanfaatkan. Sedangkan untuk residu, saat ini memang belum ada solusi pasti mau diapakan,” tandasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/krs



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami