Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 25 Juni 2026
Angin Kencang Rusak Dua Rumah di Buleleng
BERITABALI.COM, BULELENG.
Hujan deras disertai angin kencang yang terjadi pada Selasa (24/2) menyebabkan dua atap rumah warga di Kabupaten Buleleng rusak. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, I Gede Suyasa, pada Rabu (25/2) mengatakan, peristiwa angin kencang itu terjadi di Banjar Dinas Menasa, Desa Sinabun, Kecamatan Sawan. Atap dapur milik Wayan Darsana dilaporkan rusak hingga membuat korban mengalami kerugian sekitar Rp 5 juta.
Peristiwa serupa juga terjadi di Banjar Dauh Pura, Desa Panji, Kecamatan Sukasada. Angin kencang menimpa rumah milik Gusti Ayu Dita Wiandari dan menyebabkan atap rumah berbahan baja ringan dengan ukuran 7x8 meter berterbangan. Selain itu, tembok rumah korban juga ikut terdampak. Kerugian akibat kejadian tersebut diperkirakan mencapai Rp 50 juta.
Suyasa menjelaskan, cuaca ekstrem yang melanda hampir seluruh wilayah Bali dipicu oleh penguatan angin dari arah utara, serta adanya
pengaruh pusaran angin di wilayah selatan Sumba, NTT, dan gelombang atmosfer yang memicu pertumbuhan awan hujan. Kondisi tersebut menyebabkan hujan lebat disertai angin kencang.
"Untuk kerusakan yang terjadi, akan diberikan bantuan perbaikan melalui dana Belanja Tidak Terduga (BTT)," terang Suyasa.
Lebih lanjut, Suyasa menyebutkan sejak Januari 2026 tercatat sebanyak 167 kejadian bencana di Kabupaten Buleleng, mulai dari tanah longsor, pohon tumbang, hingga banjir. Ia pun mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan mengurangi aktivitas di luar rumah saat hujan deras dan angin kencang, kecuali dalam kondisi mendesak.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun