Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
PHDI Buleleng: Langgar Nyepi, Pelaku Bisa Dikenakan Sanksi Adat
BERITABALI.COM, BULELENG.
Perayaan Hari Raya Nyepi 2026 di Kabupaten Buleleng ternoda oleh ulah sejumlah oknum yang melanggar aturan Catur Brata Penyepian. Mulai dari pesta minuman keras di jalan, insiden kekerasan hingga live TikTok tak senonoh, memicu reaksi keras dari tokoh umat Hindu.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia, I Gde Made Metera, menegaskan bahwa pelanggaran terhadap nilai sakral Nyepi dapat dikenakan sanksi adat sesuai ketentuan yang berlaku di desa adat.
"Sepanjang sudah diatur di awig-awig, dan sudah ada kesepakatan di desa adat, silakan saja diterapkan (dikenakan sanksi adat)," ujarnya, Selasa (24/3/2026).
Metera menjelaskan bahwa Catur Brata Penyepian merupakan inti dari pelaksanaan Nyepi yang mengajarkan pengendalian diri melalui empat larangan utama, yakni Amati Gni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan).
Melalui pelaksanaan ini, umat Hindu diajak untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki kesalahan, serta meningkatkan kualitas hidup ke arah yang lebih baik.
"Yang tidak baik, agar dapat diperbaiki dalam kehidupan berikutnya. Yang sudah baik dapat ditingkatkan," katanya.
Namun, adanya pelanggaran yang terjadi justru mencerminkan kurangnya pemahaman dan kesadaran sebagian masyarakat terhadap makna Nyepi.
Metera menilai bahwa masyarakat non-Hindu di Bali selama ini telah menunjukkan sikap toleransi tinggi dengan menghormati pelaksanaan Nyepi. Bahkan, dunia internasional turut mengakui manfaat Nyepi dalam menekan polusi dan menjaga lingkungan.
"Orang lain saja bisa menghargai. Kalau masih ada warga Hindu yang belum menaati ajaran Catur Brata Penyepian, itu berarti masih perlu diberi edukasi mulai dari tingkat rumah tangga, sekolah, serta di masyarakat yang edukasinya perlu diberikan oleh tokoh-tokoh masyarakat," terangnya.
Ia menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan serta peran tokoh masyarakat dalam memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai Nyepi.
Selain sanksi adat, Metera juga mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan penghentian layanan internet selama Nyepi guna menjaga kekhusyukan umat dalam beribadah.
"Operasi di bandara, penyeberangan laut, angkutan darat dihentikan selama Nyepi. Kalau jaringan internet juga dihentikan, juga lebih bagus agar lebih fokus melaksanakan Catur Brata Penyepian," tandasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5897 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4625 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2592 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2235 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2209 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan