Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Dijanjikan Kerja di Bali, Pemuda asal NTT Disekap dan Diminta Tebusan Rp100 Juta

Selasa, 9 Juni 2026, 20:29 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Dijanjikan Kerja di Bali, Pemuda asal NTT Disekap dan Diminta Tebusan Rp100 Juta.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Niat merantau ke Bali untuk mencari pekerjaan justru berujung mimpi buruk bagi KS (23), seorang pemuda asal Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia mengaku menjadi korban dugaan penipuan lowongan kerja yang berujung penyekapan, penganiayaan, hingga permintaan uang tebusan kepada keluarganya.

Kasus ini kini ditangani aparat kepolisian setelah korban berhasil melarikan diri dari lokasi penyekapan dan melaporkannya ke Polsek Kuta."Ada lima orang pelakunya," kata korban ke Polisi, pada Selasa 9 Juni 2026.

Korban menuturkan, dirinya diduga ditipu oleh dua perempuan berinisial ATP dan AAAP yang mengaku sebagai pengelola usaha perhotelan dan vila di Bali. Selain itu, tiga pria yang diduga bertindak sebagai pengawal kedua perempuan tersebut disebut turut melakukan penganiayaan.

KS mengaku datang ke Bali pada 1 Mei 2026 dengan tujuan mencari pekerjaan. Selama berada di Bali, ia tinggal sementara di tempat kos milik sepupunya.

Pada 4 Mei 2026 sekitar pukul 13.00 WITA, ia menemukan informasi lowongan kerja melalui internet dan langsung mengajukan lamaran. Tak lama kemudian, korban dipanggil untuk mengikuti wawancara di Hotel Liberta Seminyak, Kuta.

Menurut pengakuannya, proses wawancara dilakukan menggunakan bahasa Inggris dan berlangsung meyakinkan. Korban kemudian dinyatakan diterima bekerja oleh ATP dan AAAP.

Dalam wawancara tersebut, korban dijanjikan berbagai fasilitas, mulai dari jabatan sebagai asisten pribadi, pengelolaan vila, kendaraan operasional, tempat tinggal, hingga gaji sebesar Rp6,5 juta per bulan.

"Mereka (pelaku perekrut, red) berulang kali membawa-bawa nama Tuhan sehingga saya percaya," bebernya.

Setelah dinyatakan diterima bekerja, korban diminta menyerahkan uang sebesar Rp4 juta dengan alasan untuk biaya pembuatan seragam kerja. Korban kemudian menghubungi orang tuanya di kampung halaman untuk mengirimkan dana tersebut.

Namun setelah uang diserahkan, seragam yang dijanjikan tidak kunjung diterima. Ketika korban terus menanyakan keberadaan seragam, pelaku hanya mengajaknya ke tempat penjahit dan menunjukkan nota pembayaran senilai Rp4 juta tanpa menyerahkan seragam yang dimaksud.

Korban mulai merasa curiga ketika salah satu pelaku, AAAP, memarahinya dalam perjalanan kembali ke hotel dan merampas telepon genggam miliknya. Sejak saat itu, korban kehilangan akses komunikasi dengan keluarga.

Situasi semakin memburuk pada 8 Mei 2026 ketika korban dipindahkan dari Hotel Liberta Seminyak ke Hotel Liberta Kedonganan.

Dalam proses perpindahan tersebut, korban mengaku terus diawasi oleh tiga pria yang diduga merupakan pengawal para pelaku. Setibanya di kamar nomor 310 Hotel Liberta Kedonganan, korban mengaku mengalami penyekapan dan penyiksaan.

"Saya dipukul dari kepala sampai kaki. Bahkan kemaluan saya juga dipukul, ditendang dan diinjak," bebernya pilu.

Selain mengalami kekerasan fisik, korban juga dipaksa menghubungi orang tua dan kerabatnya untuk meminta uang tebusan sebesar Rp100 juta agar bisa dibebaskan. Nilai tebusan tersebut kemudian disebut diturunkan menjadi Rp20 juta.

Korban mengaku penyiksaan berlangsung selama berjam-jam, mulai sekitar pukul 17.00 WITA hingga pukul 02.00 dini hari. Selama itu, ia terus mendapat tekanan untuk meminta uang kepada keluarganya. Kesempatan melarikan diri akhirnya datang pada pagi hari tanggal 9 Mei 2026 ketika para penjaganya tertidur.

Sekitar pukul 06.00 WITA pada 9 Mei 2026, korban melihat para penjaganya tertidur. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk melarikan diri.Korban kemudian berlari keluar hotel hanya mengenakan celana jeans panjang tanpa alas kaki.

"Saya lari sambil berlumuran darah. Di pelipis kanan saya dapat tiga jahitan karena dipukul pakai sepatu high heels," ujarnya.

Dalam kondisi terluka, KS berlari hingga menemukan sebuah warung Madura di kawasan Kedonganan. Dari lokasi tersebut ia meminjam telepon untuk menghubungi keluarganya.

Setelah berhasil menghubungi orang tua, korban diarahkan menuju rumah kos yang dihuni warga asal NTT. Penghuni kos kemudian memberikan bantuan berupa telepon genggam dan pakaian untuk korban.

Tak lama kemudian, kakaknya bersama Ketua Paguyuban Sumba Barat Daya, Samuel S Kalumbang, datang menjemput dan membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis serta menjalani visum. Usai mendapatkan perawatan, korban bersama keluarganya melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Kuta.

Korban dan petugas kepolisian sempat mendatangi Hotel Liberta Kedonganan untuk mencari para pelaku. Namun saat tiba di lokasi, para terduga pelaku diketahui telah meninggalkan hotel sekitar pukul 07.00 WITA.

Kasus tersebut dibenarkan Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Agus Riwayanto Diputra. Ia mengatakan penanganan perkara saat ini masih dilakukan oleh penyidik Polsek Kuta.

"Penanganan masih ditangani penyidik Polsek Kuta," ujarnya, pada Selasa 9 Juni 2026.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/spy



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami