Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Filosofi Lawar Menurut Mahayastra: Simbol Kebersamaan
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Lawar bukan sekadar kuliner tradisional Bali. Bagi Bupati Gianyar I Made "Agus" Mahayastra, lawar memiliki filosofi tentang kebersamaan, keberagaman dan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Mahayastra saat menghadiri Parade Ngelawar dan Metanding Gebogan di Wantilan Pura Samuantiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 Provinsi Bali dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Mahayastra mengibaratkan proses meracik lawar sebagai gambaran kehidupan sosial. Beragam bahan dan bumbu harus berpadu dengan takaran yang tepat sehingga menghasilkan cita rasa yang seimbang.
"Lawar memiliki makna kebersamaan, keragaman. Kalau salah satu mendominasi, rasanya tidak akan enak," ujar Agus Mahayastra.
Menurutnya, prinsip keseimbangan dalam lawar dapat menjadi gambaran bagaimana masyarakat hidup berdampingan. Setiap unsur memiliki peran, namun tidak boleh ada satu unsur yang mendominasi.
Ia mencontohkan, rasa lawar akan berubah jika salah satu bumbu digunakan secara berlebihan. Garam yang terlalu banyak membuat rasa menjadi asin, sementara cabai yang terlalu dominan akan membuat rasa hanya terasa pedas.
"Yang enak adalah bagaimana mereka bercampur, bersatu padu, membuat rasa yang enak. Itulah lawar, itulah rasa kebersamaan kita di Gianyar," tegasnya.
Ngelawar Jadi Ruang Kebersamaan
Bagi masyarakat Gianyar, tradisi ngelawar tidak hanya berkaitan dengan aktivitas memasak. Kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat dan kerap hadir dalam berbagai kegiatan adat.
Ngelawar dapat ditemui dalam hajatan keluarga, upacara piodalan hingga kegiatan adat di banjar. Warga berkumpul dan bekerja bersama untuk menyiapkan lawar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Mahayastra menilai tradisi tersebut menjadi sarana bagi masyarakat untuk saling berbaur. Setiap orang dapat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing sehingga tidak ada yang hanya menjadi penonton.
Semangat itulah yang menurutnya perlu terus dipertahankan dalam kehidupan masyarakat Gianyar.
"Kalau hadir di tengah-tengah masyarakat, apakah kita bengong? Malu dong kita bengong. Minimal bisa berbaur. Entah kalau tidak bisa dalam hal A, di hal B kita bisa," pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5921 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4640 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2611 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2267 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2216 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan