Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 23 Agustus 2026
Kawanan Burung Pipit Mati Mengenaskan di Bandara Ngurah Rai, BKSDA Ungkap Penyebabnya
beritabali/ist/Kawanan Burung Pipit Mati Mengenaskan di Bandara Ngurah Rai, BKSDA Ungkap Penyebabnya.
BERITABALI.COM, BADUNG.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali memberikan penjelasan terkait kematian kawanan burung pipit ditemukan di area Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Menurut Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Bali, Kadek Andina Widiastuti, peristiwa ini terjadi Jumat malam, 22 November 2024, akibat sambaran petir.
Andina menjelaskan bahwa pohon tempat burung-burung tersebut bertengger mengalami patah ranting setelah tersambar petir. Kejadian ini menyebabkan burung-burung yang sedang beristirahat di pohon tersebut turut mati.
"Petugas kebersihan bandara segera mengevakuasi bangkai burung untuk menjaga kenyamanan pengunjung," ujar Andina, Minggu, (24/11/2024) di Denpasar.
Pada pemeriksaan yang dilakukan tim BKSDA pada Minggu, 24 November 2024, ditemukan sisa tiga bangkai burung yang kondisinya sudah sangat memburuk, mencapai 90% degradasi, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan nekropsi atau pengambilan sampel lebih lanjut.
"BKSDA Bali mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian alam dan satwa di sekitar mereka," harapnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4637 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2441 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2089 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1696 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1131 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun