Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 15 Agustus 2026
Kisah Emmy, Satu-satunya Anak yang Selamat dari Penembakan
BERITABALI.COM, DUNIA.
Emmy yang berusia tiga tahun menjadi korban selamat saat terjadi peristiwa penembakan massal di Thailand. Ia sedang tidur siang di samping sahabatnya di sebuah pusat penitipan anak di Thailand ketika penyerang masuk membawa pistol dan pisau.
Kelas yang berisi 11 anak berusia tiga tahun semula sibuk menggambar dan menulis. Sekitar pukul 10.00 waktu setempat, para guru mengirimkan foto anak-anak yang tersenyum kepada orang tua mereka.
Dua jam kemudian, pada waktu tidur siang, mantan polisi Panya Kamrab menyerbu gedung. Saksi mata mengatakan dia pertama kali menembak staf, termasuk seorang guru yang sedang hamil delapan bulan. Lalu, memaksa masuk ke masing-masing ruangan dari tiga ruang kelas taman kanak-kanak tersebut.
Melansir BBC, pelaku membunuh semua teman Emmy saat mereka tidur. Belum diketahui dengan pasti bagaimana Emmy bisa selamat. Namun dia ditemukan terjaga, meringkuk di samping mayat teman-teman sekelasnya.
"Dia tidak tahu apa yang terjadi ketika dia bangun," kata Somsak Srithong, kakek Emmy.
"Dia mengira teman-temannya masih tidur. Seorang petugas polisi menutupi wajahnya dengan kain dan membawanya pergi dari pemandangan berdarah," lanjutnya.
Emmy adalah satu-satunya anak yang hidup melalui pembantaian di Nong Bua Lamphu pada Kamis (6/10). Total 37 orang tewas, termasuk istri dan anak tiri penyerang, dan 24 di antaranya adalah anak-anak.
"Saya merasa sangat bersyukur dia selamat. Saya memeluknya erat-erat saat pertama kali melihatnya," kata Somsak.
Sementara ibu Emmy, Panompai Srithong, bekerja di Bangkok selama seminggu. Dia telah diberitahu bahwa semua anak di pusat itu telah meninggal. Tapi, dia merasa yakin bahwa putrinya masih hidup.
"Saya akhirnya mendapat panggilan video dengan Emmy dan dipenuhi dengan kelegaan yang terberkati," katanya.
Akibat penembakan massal, Nong Bua, Lamphu, disebut dipenuhi dengan keluarga yang berduka, dan selama beberapa hari pertama, kakek-nenek Emmy berjuang untuk mengetahui apa yang harus dikatakan sang cucu. Paslanya, Emmy terus menanyakan keberadaan sahabatnya, Pattarawut yang juga berusia tiga tahun.
"Neneknya akhirnya memberi tahu dia bahwa teman-teman sekolahnya semua telah meninggal, bersama dengan gurunya, dan pusat penitipan anak ditutup," kata ibu Emmy.
Sementara itu, upacara pemakaman Buddhis dan doa bagi para korban berlangsung di beberapa kuil di kota itu untuk menandai dimulainya tiga hari berkabung.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4521 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2335 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1983 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1601 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1042 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun