Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
NTB Diguncang 127 Kali Gempa dan Ribuan Kali Sambaran Petir
BERITABALI.COM, NTB.
BMKG mencatatkan telah terjadi gempa pada Selasa (4/4) pukul 02.26 WITA, di Selatan Bali.
Hasil analisa BMKG menunjukkan bahwa gempa ini berkekuatan magnitudo M=4,6. Episenter terletak pada koordinat 8,87° LS; 115,69° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 48 km Tenggara Klungkung, Bali pada kedalaman 74 km.
Dampak gempa berdasarkan laporan masyarakat berupa guncangan dirasakan di wilayah Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, Mataram, Karangasem, Kuta, Denpasar.
Sementara berdasarkan data BMKG, Bencana alam gempa bumi periode 24 hingga 31 Maret 2023 terjadi di NTB sebanyak 127 kejadian. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas III Mataram, gempa dengan magnitudo tertinggi terjadi di Kabupaten Sumbawa.
Baca juga:
Gempa Bumi Magnitudo 5,0 di Lembata NTT
“Dari 127 total gempa bumi, hanya satu yang dirasakan seluruh wilayah se-NTB, yaitu di Sumbawa. Dengan kedalaman dangkal kurang dari 60 Km dan 4,8 magnitudo,” kata Kepala BMKG Mataram, Ardhianto Septiadi, Selasa (4/4).
Alasan seringnya terjadi gempa bumi di NTB, lanjut Ardhianto, karena di daerah provinsi dengan pulau ini memiliki 10 sumber gempa bumi.
“Sehingga wajar aktivitas gempa banyak terjadi namun dengan magnitudo yang kecil,” jelasnya.
Selain itu, kondisi petir juga dalam angka yang tinggi selama delapan hari terakhir dengan total sambaran sebanyak 111.657 dan sambaran tertinggi di Kabupaten Sumbawa dengan total 51.900. Kemudian Lombok Tengah berada pada urutan kedua.
Selanjutnya, aktivitas petir di Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu tidak berbeda jauh. Di urutan terkahir Kota Mataram. Sedangkan Kabupaten Lombok Barat, Sumbawa Barat, Lombok Utara, Kota Bima aktivitas petir tidak dalam angka tinggi.
“Tergantung awan. Biasanya, puncak musim hujan banyak awan sehingga banyak petir,” sambung Ardhianto.
Untuk ke depan, memasuki awal musim kemarau dirinya mengatakan aktivitas petir tidak sebanyak sebelumnya. Hal ini karena kondisi awan pada bulan April tidak seperti bulan Maret.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/lom
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3874 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2106 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2008 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1920 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1783 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun