Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 12 September 2026
"Penguasa" Marah Karena Tabuh Rah Dilarang
Negara
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Nama Tibu Sempit sudah cukup dikenal oleh masyarakat Negara khususnya warga Lingkungan Satria, Pendem, Jembrana. Tibu Sempit yang terletak di satu bagian Sungai ijogading ini terkenal karena seringnya memakan korban manusia akibat tenggelam.
Made Gunarsa (72), pemangku di Pura Taman Sari yangetaknya persis di pinggir Tibu Sempit ini, Sabtu (7/9) menceritakan seringnya Tibu Sempit ini memakan korban jiwa membuat para warga di sekelilingnya berupaya secara niskal dengan memohon petunjuk dari "penguasa" Tibu Sempit. Akhirnya, lanjutnya, diperoleh petunjuk kalau "penguasa" Tibu Sempit marah karena
karena tabuh rah yang biasa digelar di pelataran pura Taman Sari tidak pernah diadakan akibat dilarang karena sudah menjurus judi atau tajen.
"Kemarahan penguasa tibu sempit itu disampaikan lewat pawisik yang mengatakan "Bes demit ne be pang rasaange, bes mekelo sing baanga ngidih getih ( Karena terlalu pelit, biar tahu rasa, sudah sangat lama tidak diberi minta darah)," ujar Gunarsa menirukan pewisik tersebut.
Setelah mendengar pawisik seperti itu, akhirnya warga kembali menggelar tabuh rah di pelataran Pura Taman Sari. Sejak saat itu Tibu Sempit tidak lagi memakan korban manusia. "Sekitar 20 tahun sudah Tibu Sempit tidak memakan korban lagi sejak digelarnya tabuh rah tersebut dan wargapun sudah merasa tenang," terangnya.
Namun kondisi berubah sejak polisi gencar menertibkan judi termasuk tajen yang digelar di pelataran Pura Taman Sari, sehingga bebotoh menjadi takut dan tabuh rahpun berhenti digelar. Seperti kejadian 20 tahun lalu, akhirnya "penguasa" Tibu Sempit marah dan kembali meminta tumbal manusia. "Setelah 20 tahun, akhirnya kembali Tibu Sempit meminta korban. Sejak 2 tahun belakangan mulai meminta tumbal manusia. Tahun ini saja sudah 2 orang yang meninggal tenggelam di sana," ungkapnya.
Melihat kejadian ini, warga kembali resah dan berharap diberi kelonggaran agar tabuh rah di pelataran Pura Taman Sari bisa tetap digelar. "Tabuh rah di sana harus tetap digelar agar "penguasa" Tibu Sempit tidak marah kemudian minta tumbal manusia," harapnya. Lanjut Ginarsa, ketika korban terakhir
tenggelam di Tibu Sempit, usaha pencarian yang dilakukan warga dengan membunyikan baleganjur dan penyelaman yang dilakukan polairud cukup lama tidak membuahkan hasil. "Akhirnya setelah digelar tajen digelar mayat korban
berhasil ditemukan,"ujarnya.(dey)
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3326 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 792 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 735 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan