Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
"Penguasa" Marah Karena Tabuh Rah Dilarang
Negara
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Nama Tibu Sempit sudah cukup dikenal oleh masyarakat Negara khususnya warga Lingkungan Satria, Pendem, Jembrana. Tibu Sempit yang terletak di satu bagian Sungai ijogading ini terkenal karena seringnya memakan korban manusia akibat tenggelam.
Made Gunarsa (72), pemangku di Pura Taman Sari yangetaknya persis di pinggir Tibu Sempit ini, Sabtu (7/9) menceritakan seringnya Tibu Sempit ini memakan korban jiwa membuat para warga di sekelilingnya berupaya secara niskal dengan memohon petunjuk dari "penguasa" Tibu Sempit. Akhirnya, lanjutnya, diperoleh petunjuk kalau "penguasa" Tibu Sempit marah karena
karena tabuh rah yang biasa digelar di pelataran pura Taman Sari tidak pernah diadakan akibat dilarang karena sudah menjurus judi atau tajen.
"Kemarahan penguasa tibu sempit itu disampaikan lewat pawisik yang mengatakan "Bes demit ne be pang rasaange, bes mekelo sing baanga ngidih getih ( Karena terlalu pelit, biar tahu rasa, sudah sangat lama tidak diberi minta darah)," ujar Gunarsa menirukan pewisik tersebut.
Setelah mendengar pawisik seperti itu, akhirnya warga kembali menggelar tabuh rah di pelataran Pura Taman Sari. Sejak saat itu Tibu Sempit tidak lagi memakan korban manusia. "Sekitar 20 tahun sudah Tibu Sempit tidak memakan korban lagi sejak digelarnya tabuh rah tersebut dan wargapun sudah merasa tenang," terangnya.
Namun kondisi berubah sejak polisi gencar menertibkan judi termasuk tajen yang digelar di pelataran Pura Taman Sari, sehingga bebotoh menjadi takut dan tabuh rahpun berhenti digelar. Seperti kejadian 20 tahun lalu, akhirnya "penguasa" Tibu Sempit marah dan kembali meminta tumbal manusia. "Setelah 20 tahun, akhirnya kembali Tibu Sempit meminta korban. Sejak 2 tahun belakangan mulai meminta tumbal manusia. Tahun ini saja sudah 2 orang yang meninggal tenggelam di sana," ungkapnya.
Melihat kejadian ini, warga kembali resah dan berharap diberi kelonggaran agar tabuh rah di pelataran Pura Taman Sari bisa tetap digelar. "Tabuh rah di sana harus tetap digelar agar "penguasa" Tibu Sempit tidak marah kemudian minta tumbal manusia," harapnya. Lanjut Ginarsa, ketika korban terakhir
tenggelam di Tibu Sempit, usaha pencarian yang dilakukan warga dengan membunyikan baleganjur dan penyelaman yang dilakukan polairud cukup lama tidak membuahkan hasil. "Akhirnya setelah digelar tajen digelar mayat korban
berhasil ditemukan,"ujarnya.(dey)
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2934 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2011 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun