Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Arus Balik Membludak, Pungli Gentayangan

Gilimanuk

Minggu, 5 Oktober 2008, 20:01 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Membludaknya arus mudik maupun arus balik rupanya dimanfaatkan oleh sejumlah oknum petugas yang bertugas mengamankan dan memperlancar arus Lebaran dengan melakukan pungutan liar.

Sasaran mereka adalah pengguna jasa penyeberangan terutama pemudik yang terjebak antrean. Hal ini terungkap melalui beberapa pengakuan dari para pemudik baik saat ditemui di lapangan maupun yang mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada wartawan.



Modus oknum-oknum tersebut dengan menawarkan jasa kepada pemudik yang terjebak antrean untuk membantu mempercepat penyebrangan dengan imbalan sejumlah uang. Untuk sepeda motor oknum tersebut mematok Rp 25 ribu sampai Rp.30 ribu dan untuk mobil mulai Rp.50 ribu sampai Rp.1 juta.

"Kami ditawari bantuan untuk mempercepat menyeberang melalui jalur khusus dengan imbalan Rp 25 ribu," ujar seorang penumpang yang mengaku bernama Marji.

Dugaan ada oknum petugas melakukan pungli juga disampaikan seorang pengguna jasa penyeberangan yang mengaku bernama Ahmad Sanjaya dengan melayangkan SMS ke Kapolda Bali dan dikirimkan juga ke wartawan.

Dalam SMS-nya itu Sanjaya menyampaikan saat mudik dengan keluarganya dari Denpasar ke Jakarta pada Minggu (28/9) lalu dengan menggunakan 5 mobil dan 3 diantaranya bernomor polisi Jakarta (B) didatangi oleh seorang oknum petugas. Lalu petugas itu minta uang Rp 5 juta untuk kelima mobil itu atau kembali ke Denpasar.



"Apa memang begini bentuk pelayanan petugas di Gilimanuk, pak tolong kami, terimakasih,"ujarnya dalam SMS itu.

Selain di lokasi antrean pemudik, pungli juga dilakukan petugas patroli dengan menyetop yang mengendarai sepeda motor di hutan Klatakan dengan mencari-cari kesalahannya. "Katanya saya melanggar karena membawa barang dan penumpang berlebihan lalu supaya urusan tidak panjang saya dimintai uang Rp. 25 ribu,"ungkap seorang pemudik tidak mau menyebut namanya.



Kepala KP3 Gilimanuk AKP Nyoman Suparta, ketika dikonfirmasi, Minggu (5/10) mengaku sudah mengetahui adanya SMS yang dikirimkan Sanjaya kepada Kapolda Bali dan masih menelusuri orang yang mengaku bernama Sanjaya. "SMS yang menyampaikan kalau Kepala KP3 (AKP Supartha, Red) meminta uang Rp. 5 juta kepada Sanjaya itu sudah ditelusuri dan tidak terbukti,"ungkapnya.

Dirinya menduga orang yang mengirim SMS itu adalah oknum rekan kerjanya sesama anggota polisi yang bertujuan agar dirinya dicopot sebagai Kepala KP3 Gilimanuk. "Saya tidak mungkin melakukan pungli, kalau saya melakukannya itu namanya bunuh diri, saya kira ini masalah internal dimana ada orang menginginkan saya diganti dengan cara lempar informasi lalu sembunyi," terangnya.

Ditempat terpisah Kasat Lantas Polres Jembrana AKP Wahyu Tri Cahyono dengan tegas membantah kalau pihaknya melakukan operasi di jalan saat arus mudik karena dalam Operasi Ketupat ini anggotanya lebih dikonsentrasikan untuk mengatur pemudik di Gilimanuk. "Tidak ada operasi di jalan seperti itu. Kita sudah mewanti-wanti agar anggota memberikan pelayanan yang terbaik," pungkasnya. (dey)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/rob



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami