Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 15 Juli 2026
Ribuan Hektar Padi Diasuransikan
Negara
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Sebentar lagi petani Jembrana tidak perlu was-was dengan ancaman kegagalan panen alias puso. Pasalnya, tanaman padi yang tumbuh di sawah mereka telah diasuransikan.
Hal ini dimungkinkan setelah adanya kesepakatan antara Bupati Jembrana, I Gede Winasa dengan Kepala Divisi Pemasaran Asuransi Bumida Pusat, H. Basri untuk mengasuransikan 6.425 hektar tanaman padi pada areal persawahan di Jembrana, Rabu (3/6).
Menurut Basri, secara garis besar asuransi ini menjamin seluruh tanaman padi pada areal persawahan di Jembrana yang mengalami puso akibat serangan hama, kekeringan dan banjir sehingga hasil panen hanya mencapai kurang dari 25 persen dari standar yang telah ditetapkan, yakni 6 ton per hektar.
“Pada dasarnya asuransi ini menjangkau seluruh areal tanaman padi di sawah kecuali sawah tadah hujan dan sawah dengan irigasi sederhana. Tentunya dengan sejumlah persyaratan, misalnya varietas padi serta pola tanam harus mengikuti rekomendasi dari Dinas Pertanian,” terangnya.
Untuk sekali kejadian puso, tambah Basri, para petani akan memperoleh santunan sebesar Rp. 2,5 juta per hektarnya.
Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan (Perkutut), IGN Sandjaja yang turut hadir mendampingi Basri menambahkan luas lahan sawah di Jembrana mencapai 6.477 hektar namun yang diasuransikan mencapai 6.425 hektar karena sisanya yang 10 hektar merupakan sawah tadah hujan dan 42 hektar merupakan sawah dengan irigasi sederhana yang tidak termasuk dalam pertanggungan asuransi.
Sementara itu, Winasa mengatakan terobosan mengasuransikan tanaman padi milik petani ini didasari oleh kondisi alam yang dewasa ini semakin tidak menentu yang sangat mempengaruhi kehidupan para petani. “Kejadian gagal panen akan sangat mungkin dialami oleh petani Jembrana,” ungkapnya. Menurut Winasa, ketika petani mengalami puso tidak ada satupun pihak yang membantu petani.
“Kalau petani mengalami puso, siapa yang mau bantu? Kalau bank bangkrut, masih ada BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia,red)” tandasnya.
Lanjut Winasa, meskipun dalam sejarah pertanian, di Jembrana belum pernah terjadi gagal panen namun ke depannya perlu diantisipasi guna mencegah derita petani. “Kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat merusak sistem pertanian perlu segera dilakukan secara konkrit dan benar-benar berpihak pada rakyat kecil seperti petani,” ungkapnya. (dey)
Reporter: Diskominfo Buleleng
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3687 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1363 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1240 Kali
Menhub Setuju Bandara Letkol Wisnu Dikembangkan di Bali Utara
Dibaca: 1135 Kali
The Greatest Showcase Jadi Event Mermaid Pertama Terbesar di Indonesia
Dibaca: 1078 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun