Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Cuaca Buruk, Nelayan Masih Takut Melaut
Beritabali.com, Negara
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Sejak dua minggu belakangan ini cuaca di perairan Selat Bali tidak juga membaik. Kencangnya hembusan angin dan tingginya gelombang membuat nelayan Jembrana masih enggan mempertaruhkan nyawanya untuk melaut.
Ketakutan untuk melaut ini tidak hanya dialami oleh nelayan yang mencari ikan dengan perahu kecil. Nelayan yang mengoperasikan perahu besarpun merasakan hal yang sama.
Sumardi (36), nelayan warga Dusun Ketapang Muara, Pengambengan, Negara ketika ditemui, Jumat (22/1) mengungkapkan dari pantai memang gelombang tampak tidak terlalu besar, namun saat di tengah laut ketinggian gelombang di Selat Bali mencapai 4 meter yang sangat berbahaya bagi keselamatan nelayan.
Dari pantai kelihatannya tidak begitu tinggi tapi ketika di tengah laut sangat terasa. Dua hari lalu jukung saya hampir terbalik, syukurlah saya masih bisa menyelamatkan diri, ungkapnya. Kapok melaut dengan jukung, Sumardi mengaku sempat bekerja sebagai ABK pada sebuah perahu besar di Pengambengan.
Ternyata perahu besar juga tidak berani melawan keganasan ombak dan terpasa harus balik kanan dengan tagan hampa, ujarnya. Hal senada juga diungkapkan Nur (40). Menurut nelayan warga Dusun Puana, Tegal Badeng Barat, Negara ketinggian gelombang di Selat Bali malah mencapai 5 meter.
Daripada beresiko lebih baik istirahat dulu, gelombang masih sangat tinggi terutama saat masuk ke tengah bahkan mencapai lima meter,†tandasnya. Untuk menyambung hidup, imbuh Nur, kebanyakan nelayan mencari pekerjaan lain. Ada yang menjadi buruh bangunan atau bekerja serabutan. Biar dapur tetap ngebul, ujarnya.
Peralihan pekerjaan juga diakui Mulyadi (45). Nelayan warga Pengambengan, Negara ini terpaksa alih profesi menjadi buruh
bangunan.
Ketimbang menganggur saya bekerja sebagai pengayah (pembantu) tukang agar ada uang masuk untuk menyambung hidup, ujarnya sambil tersenyum. Lantaran buruknya cuaca. Mulyadi mengaku mengalami penurunan penghasilan yang cukup drastis. Jika melaut saya bisa dapat Rp. 50 ribu sampai Rp. 75 ribu sehari tapi kalau kerja serabutan tidak dapat segitu, tandasnya.
Karena lama tidak melaut, perahu-perahu nelayan yang diparkir di tepi pantai dijadikan tempat bermain anak-anak. Mereka tampak asyik mandi di laut sambil sesekali melompat dari ats perahu nelayan.
Reporter: bbn/ctg
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5904 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4629 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2594 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2239 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan