Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Cewek Kafé dan

buleleng

Kamis, 1 September 2011, 22:17 WITA Follow
Beritabali.com

google.com/ilustrasi

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

HIV/AIDS di Kabupaten Buleleng di akhir bulan Agustus 2011 menembus angka 1.200 penderita. Bahkan penyebaran virus mematikan tersebut kini bergeser dari Kecamatan Gerokgak ke wilayah Kota Singaraja. Yang mengejutkan, tiga orang Waitress atau pelayan Café serta seorang 'Dakocan' atay 'Dagang Kopi Cantik' positif tertular penyakit mematikan ini.

Penyebaran keganasan virus HIV tersebut dari catatan Komisi Penanggulangan Aids Daerah, KPAD Buleleng dan Yayasan Citra Usada Indonesia merata di 9 Kecamatan di Kabupaten Buleleng. Kecamatan Buleleng berada di bagian teratas dengan mencatat 280 penderita HIV/Aids dan Kecamatan Gerokgak di kedua dengan jumlah 208, serta Kecamatan Sawan diurutan ke tiga dengan jumlah penderita mencapai 167.

“Dalam jangka waktu sebulan terakhir, rata-rata di Buleleng dari tiga kecamatan tercatat 58 warga yang sudah positif, termasuk satu orang yang sering mangkal di dagang patokan atau dakocan. Kondisi ini sebuah fenomena gunung es sehingga perlu diwaspadai,” ungkap Koordinator YCUI Buleleng, Ricko Wibawa dan Ketut Sukiarta, Kamis (1/9).

Selain dakocan, dalam sebulan terakhir juga diketahui tiga orang waitress atau cewek Kafé di Buleleng yang bekerja secara tidak tetap di beberapa kafé di Lovina, Singaraja dan Seririt juga terindikasi tertular. Bahkan ketiga waitress kafé tersebut kerap meladeni pelanggannya termasuk memberikan pelayanan plus ke hotel.

“Ini yang sangat kita takutkan, karena ada indikasi tiga waitress Kafé juga positif terjena virus HIV dan orang-orang ini bekerja secara pindah-pindah dari satu kafé ke kafé yang lain termasuk bisa dibooking,” papar Sukiarta

Langkah antisipasi dengan kondisi yang terjadi di Kabupaten Buleleng melalui pengawasan nampaknya masih menjadi kendala, sehingga penambahan jumlah korban penyebaran virus HIV/Aids di Kabupaten yang terletak di Bali Utara itu akan semakin bertambah.

” Kita tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pengasawan terhadap orang-orang yang sudah terkena dan kita hanya bisa memberikan sosialisasi kepada masyarakat untuk melakukan pola hidup secara sehat,” ungkap Ketua KPAD Buleleng, Made Arga Pynatih yang juga Wakil Bupati Buleleng.

 

Berdasarkan data pada KPAD Buleleng disebutkan, hampir 85 persen penyebaran HIV/Aids di Buleleng disebabkan akibat kontak langsung dengan penderita melalui hubungan seksual, sisanya disebabkan penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik. 
 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami