Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Ngopi Belum Menjadi Gaya Hidup di Bali

Senin, 17 September 2012, 06:45 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Ngopi atau minum kopi sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Bali secara turun temurun. Tetapi ngopi belum menjadi sebuah life style (gaya hidup) di kalangan masyarakat Bali. Ngopi di kalangan masyarakat Bali masih sebatas pelengkap.

“Kalau kita mengadakan uji coba dengan masyarakat Bali yang juga produsen kopi, mungkin sebagian bilang kopi ini pahit, kopi itu pahit, bagi saya sama saja,” kata Manajer PT. Bahana Genta Viktory Cabang Bali, Pramudya Bevan. Menurut Pramudya, secara umum apresiasi masyarakat Bali terhadap cara menikmati kopi masih rendah. Buktinya kebiasaan masyarakat Bali yang menyeduh kopi dengan air yang sangat panas sehingga rasa kopi menjadi hilang.

Kebiasaan lainnya adalah kebiasaan masyarakat Bali yang membuat kopi tubruk, padahal saat menikmati kopi tubruk akan sulit untuk menikmati rasa-rasa lain dari kopi karena airnya terlalu panas. "Kebiasaan ini tidak hanya terjadi di Bali tetapi juga terjadi di Jawa juga sama. Cara kita untuk merasakan kopi terbaik adalah dengan diseduh dengan suhu yang cukup atau dicoba dengan cara espresso. Disitu bisa kita lihat rasa asli dari kopi itu sendiri,” tegas Pramudya Bevan.

Pramudya menyarankan saat menyeduh kopi setidaknya menggunakan air panas yang suhunya dibawah 90 derajat celcius. Masyarakat dapat mencoba membedakan rasa kopi yang diseduh dengan suhu di atas dan di bawah 90 derajat celcius untuk membedakan rasa. “Jadi bukan berarti kalau kita minum kopi setiap hari kita bisa dibilang mengerti mengenai itu kopi, karena keseringan kita bakar mereka dengan air panas, karena kita hanya butuh kafeinnya dan rasa pahitnya,” ujarnya.

Ia menuturkan kebiasaan menyeduh kopi dengan air bersuhu tinggi hampir terjadi di seluruh negara penghasil kopi seperti Brasil, Kolombia dan Indonesia. Negara-negara penghasil memiliki kecenderungan tidak tahu cara mengolah sebelum menjadi minuman. Sedangkan negara maju tahu cara mengekstraknya menjadi lebih baik. Ia menambahkan kesalahan lainnya dalam minum kopi pada masyarakat Bali adalah terlalu banyak menambahkan gula dengan alasan lebih suka minum kopi manis. Padahal penambahan gula hanya akan membunuh rasa kopi.

 

 

“Sekarang banyak usaha minuman kopi yang masuk ke Bali, jadi ada banyak kesempatan untuk belajar dan mencoba teknik pengolahan hingga meracik kopi menjadi minuman,” jelasnya. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/mul



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami