Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 27 Oktober 2026
Ribuan Orang Gelar Aksi di London Protes Brexit
Minggu, 3 Juli 2016,
08:05 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Beritabali.com, London. Ribuan demonstran membanjiri pusat kota London Sabtu siang (2/7/2016) waktu setempat dalam unjuk rasa menentang suara meninggalkan Uni Eropa yang telah menghempaskan Inggris kepada krisis politik dan ditentang oleh sebagian besar penduduk London.
Para demonstran kebanyakan kaum muda dan banyak yang membaluti tubuh mereka dengan bendera Uni Eropa, sedangkan yang lainnya mengenakan banner bertuliskan 'Saya berada di UE' atau 'Wrexit'.
Mereka meneriakkan kata-kata :jadi apa yang kita ingin lakukan? Tetap dalam UE," ketika bergerak ke distrik politik Westminster sambil menyanyikan lagu hit 1987 karya penyanyi Rick Astley berjudul Never Gonna Give You Up dan lagu Whitney Houston I Will always Love You.
"Saya sungguh terguncang pada pagi setelah suara (mendukung Brexit pada referendum itu)," kata salah seorang demonstran bernama Nathaniel Samson, 25 tahun, dari Hertfordshire di utara London.
"Saya merasa sangat tidak yakin dengan masa depan saya. Saya menerima hasil referendum namun ini untuk menunjukkan kami tidak bisa menerimanya dengan diam-diam," imbuhnya.
Demonstran lain, seorang warga Italia bernama Pamela Zoni yang sudah tinggal enam tahun di Inggris mengaku kecewa atas hasil referendum dan berpikir ulang untuk menjadi warga negara Inggris.
"Saya menginginkan referendum kedua. Kampanye pertama didasarkan oleh kebohongan, dan marjinnya sangat tipis, itu bukan hasil yang fair," kata perempuan 34 tahun itu.
Sebanyak 60% warga Kota London memilih tetap bersama UE pada referendum Kamis pekan lalu itu dengan sebagian besar kaum muda mendukung tetap bersama Uni Eropa. Sedangkan total 52% warga Inggris Raya mendukung keluar dari Uni Eropa.
Penyelenggara demonstrasi, Kieran MacDermott yang lulusan King's College, berkata, "Kita tak bisa menahan Brexit dengan menolak menerima referendum sebagai kata terakhir dan menarik jari kita dari tombol penghancuran diri sendiri."
Menurut dia, parlemen semestinya memiliki kata terakhir mengenai apakah Inggris harus keluar dari Uni Eropa.
Hasil referendum itu sendiri meninggalkan pertarungan politik di dalam partai berkuasa Konservatif untuk menggantikan Perdana Menteri David Cameron yang sudah menyatakan mengundurkan diri gara-gara hasil referendum itu.
Partai oposisi utama Partai Buruh juga saling bertempur antarsesamanya dengan banyak legislator dari partai ini menarik dukungan kepada pemimpin partai Jeremy Corbyn karena dianggap tidak memberikan kontribusi cukup dalam kampanye referendum, demikian laporan Reuters.[bbn/inilah/psk]
Berita Premium
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5906 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4631 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2595 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2240 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026