Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 29 Juli 2026
Musim Panas Ekstrem Akan Terjadi di Tahun 2100
Selasa, 8 Agustus 2017,
21:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com, New York. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa perubahan iklim akan membuat suhu dan kelembapan di negara-negara Asia selatan berbahaya bagi manusia.
Dipublikasikan dalam jurnal Science Advances, studi ini didasarkan pada penemuan sebelumnya yang berkata bahwa efek cuaca panas yang paling berbahaya bagi manusia adalah kombinasi dari suhu tinggi dan kelembapan yang tinggi yang disebut temperatur bola basah.
[pilihan-redaksi]
Berbeda dengan temperatur bola kering yang hanya mengukur suhu di udara, temperatur bola basah juga mengukur kelembapan relatif dan biasanya hasilnya lebih rendah daripada temperatur bola kering.
Bagi manusia, temperatur bola basah ini sangat penting. Pasalnya, walaupun suhu di dalam tubuh kita 37 derajat celcius, kulit biasanya hanya 35 derajat Celcius. Perbedaan ini membuat kita dapat berkeringat dan menurunkan panas metabolik.
Akan tetapi, jika temperatur bola basah mencapai 35 derajat Celcius, kemampuan kita untuk menurunkan temperatur tubuh berkurang jauh dan menurut para peneliti, orang yang paling sehat sekali pun akan meninggal dalam waktu enam jam.
Pada saat ini temperatur bola basah jarang mencapai 31 derajat Celcius. Namun, hal ini akan berubah pada tahun 2100. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tanpa pengurangan gas rumah kaca yang serius, perubahan iklim akan menaikkan temperatur bola basah hingga mencapai antara 31-34,2 derajat Celcius di negara-negara Asia selatan.
Dr Elfatih Eltahir dari Massachusetts Institute of Technology yang menulis studi ini mengatakan kepada Independent 3 Agustus 2016, gelombang panas akan membawa kita ke ambang pertahanan hidup, dan suhu di atas 30 derajat Celcius sangatlah parah.
Tiga daerah di antaranya yang paling terdampak adalah bagian utara India, Bangladesh, dan Pakistan selatan di mana sekitar 1,5 miliar orang tinggal.
Bila benar-benar jadi, tragedi tahun 2015 bisa terulang. Pada tahun tersebut, batas 35 derajat Celcius hampir tercapai di daerah Teluk Persia dan sekitar 3.500 orang di Pakistan dan India meninggal karenanya.
Akan tetapi, yang akan lebih menakutkan adalah ketahanan pangan yang mengancam semua orang.
Dr Eltahir menambahkan, dengan adanya gangguan terhadap produksi pertanian, Anda tidak memerlukan gelombang panas untuk membunuh manusia. Produksi akan menurun jadi semua orang akan menderita, demikian lansir National Geographic. [bbn/idc]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3884 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2821 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2036 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1986 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1804 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026