Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 28 Oktober 2026
Musim Panas Ekstrem Akan Terjadi di Tahun 2100
Selasa, 8 Agustus 2017,
21:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com, New York. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa perubahan iklim akan membuat suhu dan kelembapan di negara-negara Asia selatan berbahaya bagi manusia.
Dipublikasikan dalam jurnal Science Advances, studi ini didasarkan pada penemuan sebelumnya yang berkata bahwa efek cuaca panas yang paling berbahaya bagi manusia adalah kombinasi dari suhu tinggi dan kelembapan yang tinggi yang disebut temperatur bola basah.
[pilihan-redaksi]
Berbeda dengan temperatur bola kering yang hanya mengukur suhu di udara, temperatur bola basah juga mengukur kelembapan relatif dan biasanya hasilnya lebih rendah daripada temperatur bola kering.
Bagi manusia, temperatur bola basah ini sangat penting. Pasalnya, walaupun suhu di dalam tubuh kita 37 derajat celcius, kulit biasanya hanya 35 derajat Celcius. Perbedaan ini membuat kita dapat berkeringat dan menurunkan panas metabolik.
Akan tetapi, jika temperatur bola basah mencapai 35 derajat Celcius, kemampuan kita untuk menurunkan temperatur tubuh berkurang jauh dan menurut para peneliti, orang yang paling sehat sekali pun akan meninggal dalam waktu enam jam.
Pada saat ini temperatur bola basah jarang mencapai 31 derajat Celcius. Namun, hal ini akan berubah pada tahun 2100. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tanpa pengurangan gas rumah kaca yang serius, perubahan iklim akan menaikkan temperatur bola basah hingga mencapai antara 31-34,2 derajat Celcius di negara-negara Asia selatan.
Dr Elfatih Eltahir dari Massachusetts Institute of Technology yang menulis studi ini mengatakan kepada Independent 3 Agustus 2016, gelombang panas akan membawa kita ke ambang pertahanan hidup, dan suhu di atas 30 derajat Celcius sangatlah parah.
Tiga daerah di antaranya yang paling terdampak adalah bagian utara India, Bangladesh, dan Pakistan selatan di mana sekitar 1,5 miliar orang tinggal.
Bila benar-benar jadi, tragedi tahun 2015 bisa terulang. Pada tahun tersebut, batas 35 derajat Celcius hampir tercapai di daerah Teluk Persia dan sekitar 3.500 orang di Pakistan dan India meninggal karenanya.
Akan tetapi, yang akan lebih menakutkan adalah ketahanan pangan yang mengancam semua orang.
Dr Eltahir menambahkan, dengan adanya gangguan terhadap produksi pertanian, Anda tidak memerlukan gelombang panas untuk membunuh manusia. Produksi akan menurun jadi semua orang akan menderita, demikian lansir National Geographic. [bbn/idc]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5933 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2614 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2272 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026