Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 27 Oktober 2026
Diskop dan UKM Tabanan Susun Road Map Strategi Pengembangan UKM
Senin, 13 Agustus 2018,
16:35 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, TABANAN.
Beritabali.com,Tabanan. Guna memperoleh masukan dan informasi terkait penyusunan road map strategi pengembangan usaha mikro kecil dan menengah berbasis potensi lokal di kawasan Nikosake, Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Tabanan melaksanaan focus group discussion (FGD) di wantilan Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, Senin (13/08).
[pilihan-redaksi]
Hadir dalam acara tersebut Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Tabanan I Wayan Miarsana sekaligus membuka acara. Turut hadir Kepala Bapelitbang Ida Bagus Wiratmaja, Kepala Dinas Koperasi dan UKM A.A. Gede Dalem Tresna Ngurah, OPD di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Tabanan, Direktur PD. Dharma Santika I Putu Sugi Darmawan,dan para Perbekel di Kawasan Nikosake.
Hadir dalam acara tersebut Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Tabanan I Wayan Miarsana sekaligus membuka acara. Turut hadir Kepala Bapelitbang Ida Bagus Wiratmaja, Kepala Dinas Koperasi dan UKM A.A. Gede Dalem Tresna Ngurah, OPD di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Tabanan, Direktur PD. Dharma Santika I Putu Sugi Darmawan,dan para Perbekel di Kawasan Nikosake.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Tabanan A.A. Gede Dalem Tresna Ngurah mengatakan Road map strategi pemberdayaan UKM berbasis potensi lokal di Kawasan Nikosake, yaitu Desa Belimbing dengan Niranya, Desa Munduk Temudan Desa Sanda dengan Kopinya, Desa Lumbung Kauh dengan kelapanya, dan Desa Wanagiri dengan salaknya.
“Adapun Road map strateginya meliputi 6 aspek yaitu memperkuat kelembagaan, menyiapkan sarana dan prasarana, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, mempermudah perijinan usaha, penguatan akses permodalan dan terakhir memperluas akses pemasaran,” jelas Gung Dalem.
Dirinya menambahkan pengembangan dan pemberdayaan di kawasan nikosake untuk di sektor sekunder. Dimana pada sektor itu adalah pada tahapan pengolahan produk hasil pertanian. Dan yang dibutuhkan adalah kelompok yang dibentuk UMKM atau kelompok pengolah hasil pertanian.
“Di sektor sekunder adalah sektor pengolah hasil pertanian. Untuk pengolahnya dibutuhkan kelompok yang dibentuk UMKM atau kelompok pengolah hasil,”ujarnya.
I Wayan Miarsana dalam sambutannya saat membuka acara mengatakan potensi bagian barat Kabupaten Tabanan adalah di sektor pertanian. Potensi pertanian harus dilestarikan dengan didukung kemajuan teknologi. Dikatakan kedepan harus bisa meningkatkan kapasitas dan kompetensi sumber daya pertanian.
“Kehidupan pertanian harus lestari, dinamis dan di dukung kemajuan teknologi. Sehingga kedepan bisa meningkatkan kapasitas dan kompetensi SDM pertanian kita,” ucap Miarsana.
Diketahui produksi pertanian di Tabanan cukup melimpah, sehingga diperlukan konsep pemasaran melalui konsep analisis kebutuhan pasar. “Kita harus memulai konsep analisis kebutuhan pasar, siapa yang produksi, siapa yang mengolah dan siapa yang memasarkan nantinya. Jadi konsep itu sudah terbangun. Mari kita bangun komitmen bersama,” ajaknya.
Kepada peserta FGD, Miarsana juga berpesan untuk menyampaikan dan mengkritisi rancangan yang sudah disiapkan. Selanjutnya membedah semuanya, hal-hal yang tidak cocok diselaraskan.
“Di FGD ini sampaikan hal-hal yang perlu disampaikan, kritisi rancangan yang sudah disiapkan oleh Dinas Koperasi dan UKM. Hal yang tidak cocok mari kita selaraskan, kemudian hal-hal yang perlu dimasukan, masukan ke program yang kita bangun ke depan,” pesannya.
[pilihan-redaksi2]
Sementara Kepala Bapelitbang Kabupaten Tabanan Ida Bagus Wiratmaja menambahkan untuk sektor primer adalah petani sebagai penghasil bahan baku, di sektor sekunder adalah pengolah hasil, dan sektor tersier adalah pemasaran atau menjual. “Di sektor sekunder inilah dibutuhkan kelompok pengolah hasil,” ucapnya.
Sementara Kepala Bapelitbang Kabupaten Tabanan Ida Bagus Wiratmaja menambahkan untuk sektor primer adalah petani sebagai penghasil bahan baku, di sektor sekunder adalah pengolah hasil, dan sektor tersier adalah pemasaran atau menjual. “Di sektor sekunder inilah dibutuhkan kelompok pengolah hasil,” ucapnya.
Wiratmaja melanjutkan bahwa untuk pabrik atau pengolahan tidak ada di BUMDes. Pengolahan adanya di masyarakat, sehingga nilai tambahnya ada di masyarakat. BUMDes adalah distributor. “BUMDes tidak boleh jual ke pasar bebas, harus dijual ke BUMDa. Dan BUMDa lah yang ditakdirkan harus jualan produk-produk ini. Dalam sistem ini harus ada perdagangan yang jujur , harus ada kesepakatan harga,” tegasnya.
Dalam FGD tersebut para peserta diberikan kesempatan untuk memberikan masukan, saran dan kritik yang disesuaikan dengan 6 aspek strategi dari Road Map tersebut. (bbn/rlstbn/rob)
Berita Tabanan Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5923 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4645 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2269 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026