Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 27 Oktober 2026
Wayan Dibia: Panggung Ruang Suci, Hindari Omongan Kasar
Senin, 8 Oktober 2018,
08:22 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. ISI Denpasar yang menampilkan drama bertajuk 'Bhisama' dalam panggung Nawanatya Sabtu (6/10) lalu mendapat komentar yang cukup tajam dari salah satu pengamat seni yakni I Wayan Dibia. Menurutnya penyutradaraannya terlalu dibiarkan liar sehingga improvisasi menjadi tidak terkontrol. Dibia pun turut menambahkan bahwa dari segi penambahan humor perlu diperhatikan tata cara dan bahasanya.
[pilihan-redaksi]
“Ah kotor agak memisuh-memisuh gitu itu bagi kita di Bali itu mungkin ada omongan yang kasar dalam arti gaya, tapi memisuh itu tidak diperbolehkan karena itu tidak pas dengan kepercayaan kita bahwa panggung itu adalah ruang suci,” jelas Dibia.
“Ah kotor agak memisuh-memisuh gitu itu bagi kita di Bali itu mungkin ada omongan yang kasar dalam arti gaya, tapi memisuh itu tidak diperbolehkan karena itu tidak pas dengan kepercayaan kita bahwa panggung itu adalah ruang suci,” jelas Dibia.
Pengamat seni ini pun berujar bahwa sebelum digunakan, panggung disucikan terlebih dahulu, sehingga dengan begitu panggung harus dijaga kesuciannya. “Ketika diisi dengan pisuhan-pisuhan begitu itu yang menyebabkan tontonan menjadi agak kotor,” tambah Dibia.
Dibia tak menampik bahwa setiap garapan memiliki nilai didalamnya. “Pesannya memang terakhir bagus tapi di tengah itu terlalu dibuka rongganya besar. Sehingga penonton kelelahan menunggu apa pesan yang sebetulnya sudah bisa ditebak bahwa pesannya akan seperti itu, tapi mengapa harus ditunda tunda,” papar Dibia. Hendaknya ini menjadi sebuah cermin bagi ISI Denpasar untuk memperbaiki diri dan mengembalikan wajah ISI yang sejati.
Sementara dalam penampilan Bhisama ISI denpasar mengusung sosok Tualen dalam dunia pewayangan yang dikenal sebagai penasihat nan bijak. Melirik persoalan perbedaan perspektif generasi old (orang tua) dengan generasi now (anak muda) membuat tim penggarap dramatari bertajuk Bhisama ini pun kian tertarik menghadirkan sosok Tualen sebagai penengah diantara kedua generasi itu.
Salah satu tim penggarap yakni I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra yang akrab disapa Gus Bang menuturkan peran Tualen yang diketahui sebagai sosok yang bijak sangat cocok menjadi penasihat dalam konflik yang terjadi.
“Kerap kali kita menemui perbedaan paham antara generasi tua dan muda baik dari alur berpikir maupun budayanya, sehingga sosok Tualen-lah yang nantinya akan memberi nasihat bahwa perbedaan bukanlah halangan untuk bersatu,” papar Gus Bang.
Tampil di Kalangan Madya Mandala Taman Budaya, Denpasar dalam Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya III, Gus Bang mengungkapkan para penampil sebagian besar berasal dari mahasiswa semester 1 (satu). “Kita memberi ruang dan kesempatan kepada mahasiswa semester 1 (satu) dulu untuk memberikan pengalaman, tapi ada juga beberapa mahasiswa semester 5 (lima) dan 7 (tujuh) yang membantu,” ujar Gus Bang.
Mahasiswa ISI Denpasar yang pentas pada Sabtu, 6 Oktober 2018 ini pun berasal dari prodi pendidikan seni pertunjukkan dramatari yang menghadirkan kolaborasi drama tari dan musik. Menjalani latihan kurang lebih selama 20 kali, mahasiswa ISI tampak bersemangat dalam menampilkan garapan dramatari. Kolaborasi gerakan tari modern dan tradisional sebagai sebuah penggambaran perbedaan budaya antara jaman dulu dengan sekarang.
[pilihan-redaksi2]
Saat terjadi pertengkaran antara golongan tua dan muda, sosok Tualen pun datang diakhir cerita sebagai pemberi petuah. Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar yakni I Komang Sudirga mengungkapkan dirinya sangat mengapreasiasi pertunjukkan yang dilakoni anak didiknya, “Saya juga apresiasi antusiasme penonton yang cukup ramai,” tambah Sudirga.
Saat terjadi pertengkaran antara golongan tua dan muda, sosok Tualen pun datang diakhir cerita sebagai pemberi petuah. Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar yakni I Komang Sudirga mengungkapkan dirinya sangat mengapreasiasi pertunjukkan yang dilakoni anak didiknya, “Saya juga apresiasi antusiasme penonton yang cukup ramai,” tambah Sudirga.
Sudirga pun berharap dengan adanya ruang kreativitas layaknya Nawanatya dapat menambah kerjasama sekaligus pengalaman untuk menciptakan garapan yang lebih baik dan tajam. (bbn/rls/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5924 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4645 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2270 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026