Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 13 September 2026
Manajemen DTW Jatiluwih Memastikan Telah Memberikan Beragam Insentif Bagi Petani
BERITABALI.COM, TABANAN.
Beritabali.com, Tabanan. Manajemen Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih memastikan telah memberikan beragam insentif bagi petani di wilayah Jatiluwih. Dimana saat ini, petani yang merupakan bagian dari subak sudah mendapatkan pembagian dari pemasukan kegiatan pariwisata.
Hal tersebut disampaikan Manajer Operasional DTW Jatiluwih I Nengah Sutirtayasa, SE dalam klarifikasi yang diterima redaksi pada Sabtu (20/10). Klarifikasi disampaikan untuk menanggapi hasil penelitian yang dituangkan dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Konsep Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan (Kasus : Dampak Pembangunan Pariwisata di Desa Jatiluwih Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan)” yang ditulis oleh Teguh Hadi Sukarno dan dipublikasikan dalam Jurnal Kepariwisataan, Volume 16 Nomor 2 tahun 2017.
Sutirtayasa mengungkapkan persentase pembagian diberikan secara adil kepada lembaga lembaga desa sesuai kesepakatan lima pihak yaitu :Pemda Tabanan,,Perbekel Jatiluwih, Pekaseh Jatiluwih, Bendesa Adat Gunungsari dan Bendesa Adat Jatiluwih. Kepada lembaga subak juga sudah memberikan hak-hak petani seperti : Bebas peturunan/iuran pembangunan Pura/pelinggih di sawah/subak, bebas aci/banten, akses jalan ke subak sudah diperbaiki, irigasi subak sudah direnovasi, kehadiran anggota subak dalam pertemuan/rapat diberikan dana kepesertaan rapat dan pupuk sudah diberikan tahun 2018.
Pada sisi lain partisipasi masyarakat menurut Sutirtayasa, juga sudah sangat cukup, sebagai salah salah satu bukti yaitu pada kegiatan-kegiuatan di Jatiluwih. Disamping kesibukan petani banyak terkuras didalam pengolahan sawah dan kebun, tetapi juga terlibat dalam perencanaan program maupun kegiatan adalah sesuai keinginan dan kebutuhan masyarakat. Terkait dengan adanya bangunan villa yang belum mempunyai izin, Sutirtayasa menyatakan bangunan tersebut sudah dibangun sejak lama dan sampai sekarang belum ada RTRW Desa Jatiluwih, karena masih dalam pembahasan dan penyesuaian dengan situasi yang ada.
Pada sisi lain juga telah dilakukan pemberian bantuan dan pembinaan kepada kelompok kesenian yang ada di Desa Jatiluwih. Namun saat pementasan, beberapa tarian seperti tarian sakral Baris Memedi tidak bisa ditampilkan sesuai keinginan,karena tarian tersebut merupakan tarian yang hanya bisa ditampilkan saat upacara.
Hal senada juga disampaikan Badan Pengelola Daya Tarik Wisata Jatiluwih dalam pernyataan klarifikasi yang diterima redaksi. Dimana dalam bidang sosial budaya telah dilakukan pendirian sekaha gong, angklung, jogged, dan kesenian lainnya. Buktinya kini dapat tumbuh dengan baik dan sering juga ngaturayah di masing-masing tempat suci yang ada disekitar Desa Jatiluwih.
Masyarakat Jatiluwih juga sudah mendapatkan dana kematian warga dan dana kesehatan masyarakat. Hal itu semua dampak dari pariwisata yang ada di Desa Jatiluwih. Sementara dalam hal pelestarian alam sudah lakukan dari dulu seperti penghijauan dengan tanamaman bambu,kopi, dan buah-buahan di areal subak kering.[bbn/rls/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3343 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 818 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 793 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan