Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Pembuat Arak Tradisional di Karangasem Terancam Punah
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com, Karangasem. Menjadi seorang pembuat arak tradisional nampaknya kurang diminati para generasi milenial khususnya yang tinggal di wilayah–wilayah penghasil tuak sebagai bahan baku arak itu sendiri.
[pilihan-redaksi]
Kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak terhadap jumlah penmbuat arak tradisional. Apabila tidak dilestarikan sejak dini maka bisa dipastikan sedikit demi sedikit petani tuak sekaligus pembuat arak tradisional lambat laun pasti akan terus berkurang keberadaannya.
Saat ini saja, yang masih menekuni sebagai pembuat arak dan penyadap tuak adalah mereka yang rata-rata telah berusia di atas 35 tahun. Kendati masih ada beberapa anak muda yang mau meneruskan usaha kerajinan arak dan penyadap tuak namun jumlahnya sangatlah sedikit karena kebanyakan dari mereka memilih untuk merantau bekerja di daerah Denpasar.
“Anak–anak sekarang lebih memilih merantau mencari pekerjaan di Denpasar, lama–lama bisa punah pembuat arak tradisional,” kata Ketut Togog (50) salah seorang Petani penyadap tuak sekaligus Pembuat Arak tradisional asal Sidemen, Karangasem.
Menjadi seorang penyadap tuak sekaligus pembuat arak tradisional sudah dijalankannya secara turun - temurun yang diwarisi oleh almarhum ayahnya. Dari sisi ekonomi harga arak tradisional ini untuk satu liternya dihargai dengan harga Rp. 60 ribu untuk kualitas kelas satunya. Sementara Rp. 30 ribu untuk arak dengan kualitas kelas dua.
Dalam sekali proses penyulingan secara tradisional, Togog memasak sekitar 120 liter tuak kelapa. Prosesnya pun tidaklah terlalu lama hanya hitungan jam saja sudah bisa menghasilkan arak. Dari 120 liter tuak Togog bisa menghasilkan 15 liter arak. Sebanyak 10 liter arak dengan kualitas kelas 1 dan 5 liter arak kualitas kelas 2.
[pilihan-redaksi2]
Hanya saja, untuk mendapatkan tuak hingga 120 liter perlu waktu untuk mengumpulkannya. Togog sendiri setiap harinya hanya berhasil mengumpulkan rata – rata sebanyak 25 liter tuak dari 25 pohon kelapa yang ia sadap.
Aktivitas menyadap tuak dan pembuat arak tradisional bisa dikatakan sebagai mata pencaharian utama bagi ketut Togog untuk menghidupi lima orang anaknya. Dirinya berharap dengan adanya wacana dilegalkannya arak tradisional ini bisa menumbuhkan minat generasi muda sehingga keberadaan pengerajin arak tradisional tidak menjadi punah.
Reporter: -
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5906 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4631 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2595 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2240 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan