Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Pembuat Arak Tradisional di Karangasem Terancam Punah
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com, Karangasem. Menjadi seorang pembuat arak tradisional nampaknya kurang diminati para generasi milenial khususnya yang tinggal di wilayah–wilayah penghasil tuak sebagai bahan baku arak itu sendiri.
[pilihan-redaksi]
Kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak terhadap jumlah penmbuat arak tradisional. Apabila tidak dilestarikan sejak dini maka bisa dipastikan sedikit demi sedikit petani tuak sekaligus pembuat arak tradisional lambat laun pasti akan terus berkurang keberadaannya.
Saat ini saja, yang masih menekuni sebagai pembuat arak dan penyadap tuak adalah mereka yang rata-rata telah berusia di atas 35 tahun. Kendati masih ada beberapa anak muda yang mau meneruskan usaha kerajinan arak dan penyadap tuak namun jumlahnya sangatlah sedikit karena kebanyakan dari mereka memilih untuk merantau bekerja di daerah Denpasar.
“Anak–anak sekarang lebih memilih merantau mencari pekerjaan di Denpasar, lama–lama bisa punah pembuat arak tradisional,” kata Ketut Togog (50) salah seorang Petani penyadap tuak sekaligus Pembuat Arak tradisional asal Sidemen, Karangasem.
Menjadi seorang penyadap tuak sekaligus pembuat arak tradisional sudah dijalankannya secara turun - temurun yang diwarisi oleh almarhum ayahnya. Dari sisi ekonomi harga arak tradisional ini untuk satu liternya dihargai dengan harga Rp. 60 ribu untuk kualitas kelas satunya. Sementara Rp. 30 ribu untuk arak dengan kualitas kelas dua.
Dalam sekali proses penyulingan secara tradisional, Togog memasak sekitar 120 liter tuak kelapa. Prosesnya pun tidaklah terlalu lama hanya hitungan jam saja sudah bisa menghasilkan arak. Dari 120 liter tuak Togog bisa menghasilkan 15 liter arak. Sebanyak 10 liter arak dengan kualitas kelas 1 dan 5 liter arak kualitas kelas 2.
[pilihan-redaksi2]
Hanya saja, untuk mendapatkan tuak hingga 120 liter perlu waktu untuk mengumpulkannya. Togog sendiri setiap harinya hanya berhasil mengumpulkan rata – rata sebanyak 25 liter tuak dari 25 pohon kelapa yang ia sadap.
Aktivitas menyadap tuak dan pembuat arak tradisional bisa dikatakan sebagai mata pencaharian utama bagi ketut Togog untuk menghidupi lima orang anaknya. Dirinya berharap dengan adanya wacana dilegalkannya arak tradisional ini bisa menumbuhkan minat generasi muda sehingga keberadaan pengerajin arak tradisional tidak menjadi punah.
Reporter: -
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2808 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2032 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1982 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1802 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun