Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Dekranasda Bali Minta Perajin Jangan "Bunuh Diri" Ikut Memasarkan Tenun Bordir
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Ketua Dekranasda Putri Koster juga mewanti-wanti agar para perajin jangan malah ‘bunuh diri’ dengan ikut-ikutan gencar memasarkan tenun printing atau bordir.
[pilihan-redaksi]
Sejumlah perajin tenun ikat yang sempat ditanya beralasan karena kain tenun printing dan borbir belakangan memang lagi trend dan banyak diminati. Kondisi ini sangat mengkhawatirkannya, sebab lambat laun alat tenun cagcag akan makin terpinggirkan.
"Saat ini hanya tersisa tak lebih dari 10 alat cagcag. Jika kita tak peduli, bukan tidak mungkin alat tradisional warisan leluhur itu akan diklaim negara lain lalu mereka mengambil keuntungan dengan promosi kalau alat itu sudah berumur ratusan tahun," urainya.
Oleh sebab itu, Ny Putri Koster mengajak perajin untuk mengambil jalan tengah yaitu dengan tetap memasarkan produk printing atau bordir, namun menyarankan kepada konsumen kalau kain jenis itu hanya untuk bahan baju. “Kalau untuk kamen, tetap harus diarahkan membeli tenun ikat tradisional,” ajaknya.
Ia berharap, upaya pengembangan tenun ikat tradisional bisa berjalan beriringan dengan upaya pelestariannya.
Masih dalam arahannya, Ny Putri Koster kembali mempertegas komitmennya dalam upaya pelestarian dan pengembangan tenun ikat Bali. "Dekranasda itu ibarat sayap yang menerbangkan produk kerajinan dari berbagai bidang, khususnya dalam hal ini kain tenun," tambahnya.
Untuk itu, ia mengajak seluruh komponen bahu membahu dalam upaya pelestarian dan pengembangan tenun ikat Bali. Menurutnya, sektor sandang belakangan memang berkembang pesat. Namun di balik pesatnya perkembangan tersebut, tenun ikat Bali menghadapi tantangan yang begitu pelik yaitu kemajuan teknologi yang mengakibatkan banyak motif songket atau endek diproduksi dengan teknik printing atau bordir.
"Karena harganya jauh lebih murah dengan tampilan yang menarik, kain printing dan bordir laku keras," tambahnya.
[pilihan-redaksi2]
Ny Putri Koster tak serta merta menyalahkan inovasi dalam produksi tenun lokal Bali. Menurutnya, dikaitkan dengan upaya pengembangan, inovasi adalah hal yang wajar.
"Nah, untuk tanggung jawab pelestarian, kita yang berpenghasilan lebih jangan ikut-ikutan berorientasi pada harga murah. Yuk, kita ambil bagian dalam upaya pelestarian tenun ikat yang masih dibuat secara tradisional," ucapnya.
Menurut Ny Putri Koster, perajin juga memegang peranan penting dalam upaya pelestarian tenun ikat yang masih dikerjakan secara tradisional seperti ATBM dan cagcag.
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5926 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4648 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2270 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan