Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
"Happy Hypoxia Syndrome", Gejala Baru Pasien Covid-19
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Sebuah studi menemukan, pasien yang dinyatakan positif Covid-19 bisa mengalami "happy hypoxia syndrome" yang merupakan kondisi saat seseorang tak mengalami kesulitan bernapas meski kadar oksigen dalam tubuh sangat rendah.
"Kondisi ini sangat membingungkan bagi dokter karena sangat bertentangan dengan konsep biologi dasar," ujar penulis studi penelitian Martin J Tobin yang merupakan dokter spesialis paru, seperti dikutip dari cnnindonesia.com mengutip Science Direct.
Dalam beberapa kasus, lanjut Tobin, pasien malah terasa nyaman, tidak terganggu sama sekali, bahkan bisa beraktivitas. Padahal, dalam tingkatan yang parah, kondisi tersebut bisa mengancam nyawa.
Studi yang diterbitkan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine ini melibatkan 16 pasien Covid-19 dengan kadar oksigen yang sangat rendah, tapi tanpa sesak napas.
"Saat kadar oksigen turun, otak [pasien Covid-19] tidak merespons sampai oksigen turun ke tingkat yang sangat rendah, di mana pasien biasanya akan merasakan sesak napas," kata Tobin.
Happy hypoxia syndrome dikenal juga dengan istilah 'silent hypoxemia'. Hipoksemia sendiri didefinisikan sebagai penurunan kadar oksigen dalam darah. Saat oksigen mulai berkurang, seseorang umumnya akan mengalami sesak napas. Pada tingkat terendah, kondisi tersebut bisa mengancam nyawa.
Covid-19 merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Pada kasus yang parah, infeksi ini bisa mengurangi jumlah oksigen yang dapat diserap paru-paru. Tingkat oksigen dalam darah yang sangat rendah ditemukan pada beberapa pasien Covid-19.
Mengutip Healthline, hipoksemia umumnya dapat disebabkan oleh berbagai kondisi pernapasan seperti asma, pneumonia, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Hipoksemia juga terkadang dapat terjadi pada bayi baru lahir dengan kelainan atau penyakit jantung bawaan. Bayi prematur juga rentan mengalami hipoksemia.
Orang yang mengalami hipoksemia umumnya akan menunjukkan beberapa gejala seperti sesak napas, batuk atau mengi, sakit kepala, detak jantung cepat, merasa bingung, serta warna biru pada kulit, bibir, dan kuku.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5933 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2617 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2272 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan