Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
6 Sektor Usaha Ini Catat Peningkatan Produksi di Tengah Pandemi
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap sejumlah pelaku usaha yang berhasil meningkatkan kapasitas produksi meski di tengah pandemi.
Adapun sektor usaha yang mencatat peningkatan produksi di tengah pandemi dari masa normal, yaitu makanan dan minuman yang berupa frozen foods, jamu, minuman, penjualan masker, penjualan sepeda, dan jasa layanan internet provider.
"Tapi di tengah pandemi covid juga masih ada pelaku usaha yang menginfokan bahwa produknya melebihi kapasitas normal, masing-masing 0,5 persen. Persentasenya kecil tapi di tengah covid mereka justru bergerak dan mendapatkan keuntungan yang lebih daripada masa normal," ungkap Kepala BPS Suhariyanto Selasa (15/9) seperti dikutip dari cnnindonesia.com saat merilis hasil Survei Dampak Covid-19 terhadap Pelaku Usaha yang diselenggarakan pada 10-26 Juli 2020.
Survei ini diikuti oleh 34.558 pelaku usaha, terdiri dari 6.821 Usaha Menengah Bawah (UMB), 25.256 Usaha Menengah Kecil (UMK), dan 2.482 usaha pertanian. Di sisi lain pendapatan 84 persen pelaku Usaha Menengah Kecil (UMK) merosot di tengah pandemi virus corona. Penurunan pendapatan juga dirasakan oleh sekitar 82 persen Usaha Menengah Besar (UMB).
"Covid memukul UMK dan UMB, mereka menyatakan pendapatannya cenderung menurun sejak adanya pandemi," ungkapnya lagi.
BPS merinci penurunan pendapatan utamanya dirasakan oleh sektor akomodasi dan makan minum. Tercatat, 92,47 persen pelaku usaha di sektor ini amblas pendapatannya saat pandemi corona.
Begitu juga dengan 90,9 persen pelaku usaha di bidang jasa lainnya serta 90,34 persen pelaku usaha transportasi dan pergudangan. Kondisi yang sama dirasakan oleh 87,94 persen pelaku usaha di sektor konstruksi, 85,98 persen pelaku usaha industri pengolahan, dan 84,6 persen pelaku usaha perdagangan.
"Kalau hasil ini disandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal II yang paling dalam adalah di transportasi dan pergudangan, di mana pertumbuhan ekonominya minus 30,84 persen," katanya.
Kemudian diikuti sektor akomodasi dan makan minum dengan pertumbuhan minus 22,02 persen.
"Artinya mereka yang terdampak pada kuartal II, pada Juli ini masih alami kesulitan," jelasnya.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5924 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4647 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2270 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan