Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Kendala Bahan Baku Impor dan Pemasaran, Ini Strategi Pengusaha Tahu dan Tempe
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Dampak Pandemi Covid-19 terasa di semua lapisan termasuk sektor usaha kecil. Seperti salah satunya dialami para pelaku usaha pembuat tahu dan tempe yang berbahan baku kedelai.
Para pelaku usaha tersebut rata-rata mengaku mengalami kesulitan, baik dalam pemasaran maupun pembelian bahan baku. Dikarenakan, selain harga jual tahu maupun tempe tidak dapat diangkat ke harga lebih tinggi. Harga bahan baku juga mengalami kenaikan kurang lebih sebesar 50 persen dari harga sebelum Pandemi merebak.
"Harga kedelai Impor naik dari Rp6.750 menjadi Rp9.750 per kilonya untuk kedelai merek Siip dari PT. Sari Agrotama Persada. Sedangkan kedelai import merek Bola dari PT Gerbang Utama sebelumnya Rp6.800 saat ini Rp10.000 per kilonya. Bisa dikatakan kenaikan harga bahan baku sangat tinggi," jelas Ketua PUSKOPTI (Pusat Koperasi Pengusaha Tahu Tempe Indonesia) Bali, H Sutrisno di Denpasar, Selasa (16/2).
Dengan adanya kenaikan harga bahan baku telah dirasakan 3 bulan yang lalu, yang menyebabkan produksi akhirnya ikut menurun sebesar 50 persen. Dengan kondisi tersebut dari 405 anggota se-Bali menyiasati dengan mengatur volume kedelai serta ukuran dari tahu maupun tempe tersebut.
"Rata-rata konsumen tidak mau harganya naik. Saat ini bisa dilakukan dengan cara, sebelumnya satu kilo kedelai dijadikan 10 tempe, akan tetapi saat ini dijadikan 12 tempe jadi volume atau ukurannya lebih ditipiskan serta dikecilkan," ujarnya.
Berton-ton bahan baku berupa kedelai impor bisa dihabiskan dalam sebulan oleh satu anggota. "Total satu anggota bisa menghabiskan kedelai rata-rata 3 ton sebulan dengan menghasilkan 810 ton produk," katanya.
Menurutnya sebagian besar anggota masih memanfaatkan kedelai impor bukan bearti kedelai lokal kalah kualitasnya. Malah sebaliknya, kedelai lokal kualitasnya lebih gurih rasanya ketimbang kedelai impor.
Hal ini disebabkan karena untuk mendapatkan bahan baku kedelai lokal sangat sulit. "Kedelai lokal tidak ada, karena petani sendiri ogah menanamnya atau bisa disebut produksi sangat kecil, padahal dari segi kualitas kedelai lokal sangat bagus," paparnya.
Tentu melihat kondisi saat ini membuat penjualan ikut menurun drastis. "Pertama kondisi ekononi telah merosot, apalagi di Bali sangat terasa sekali yang membuat anggota merasa sangat berat. Terpenting saat ini bisa bertahan hidup saja sudah bersyukur," ucapnya.
Dirinya berharap kepada Pemerintah, bagaimana agar tata niaga penjualan kedelai dapat ditangani oleh pemerintah dengan baik stidaknya harga bisa stabil kembali.
Ia menambahkan dari sisi serapan tenaga kerja usaha ini sangat banyak yaitu 3.840 sebelum pandemi. Namun, saat ini telah menurun sebesar 30 persen.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5921 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4641 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2611 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2267 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2216 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan