Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Mutiara "South Sea Pearl" Lombok Diupayakan Terdaftar di Indikasi Geografis
BERITABALI.COM, NTB.
Mutiara yang dikenal dengan nama South Sea Pearl dari kerang spesies Pinctada Maxsima terdapat di perairan Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini sedang diupayakan terdaftar dalam Indikasi Geografis (IG).
Ketua Dekranasda Nusa Tenggara Barat (NTB), Niken Saptarini Widyawati saat meninjau pengembangan budidaya Mutiara yang berlokasi di Dusun Batu Putih dan di Balai Pengembangan Budidaya Perairan Pantai (BPBPP), Sekotong Kabupaten Lombok Barat mengatakan, pengembangan budidaya Mutiara ini terus menjadi perhatian Pemerintah Provinsi NTB.
Niken juga mendorong dan menyemangati para pembudidaya untuk terus berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan komoditas mutiara yang sudah sejak lama mendunia tersebut.
“Saat ini bagaimana upaya Pemerintah Provinsi NTB untuk mendorong agar mutiara NTB bisa mendapatkan hak Indikasi Geografis. NTB terkenal dengan Mutiara yang memiliki kualitas yang mendunia. Untuk budidaya Mutiara juga kita sedang mengupayakan untuk mendapatkan hak Indikasi Geografis,” ungkap Niken, Kamis (25/2).
Niken juga menilai, NTB memiliki laut yang begitu asri dan cocok sebagai budidaya air laut. Sehingga Pemerintah terus berperan aktif di tengah masyarakat agar terus memberikan keberlangsungan Mutiara Lombok.
“NTB memiliki laut yang jernih, secara kualitas masih asri dan cocok untuk tumbuh atau berkembangnya Pinctada Maxsima yang menjadi rumah Mutiara. Pemerintah, perusahaan dan seluruh stakeholders akan terus bersinergi untuk mendukung ini,” kata dia.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, H Yusron Hadi menjelaskan, bahwa adanya IG dapat memberikan nilai jual lebih pada Mutiara Kerang Lombok.
“IG adalah salah satu instrumen yang memberikan keunikan pada suatu produk. Mutiara Lombok sudah punya brand. Jika kita punya IG berarti kita punya nilai kekhasan dan semakin punya nilai jual di pasar internasional“ tutur Yusron.
Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok (BPBL) Mulyanto, menegasikan, Mutiara Lombok menjadi yang kelima produk yang terdaftar IG yakni, Sayur Kangkung, Madu Sumbawa, Susu Kuda Liar Sumbawa, Kopi Tambora dan saat ini yang masih diupayakan adalah Mutiara Lombok.
“Sudah kami usulkan. Penyusunan Indikasi Geografis (IG) banyak melibatkan stakeholders seperti Kementerian Hukum dan HAM, Perindustrian, Kelautan dan sebagainya. Proses ini beberapa kali ada perbaikan. Sampai saat ini kita masih menunggu. Semoga segera keluar agar memberikan kekhasan untuk Mutiara Lombok ini,” jelas Mulyanto.
Di sisi lain, tepatnya di Dusun Batu Putih, Sekotong, Muktamar selaku penanggung jawab kelompok usaha “Tunas Rahayu” yakni pengrajin budidaya Mutiara Lombok yang merasakan dampak sangat besar manfaatnya dari hasil budidaya Mutiara Lombok.
“Budidaya Mutiara yang kita kelola ini banyak diminati oleh kalangan atas. Kita sebagai masyarakat mendapat bantuan dari instansi dan dinas terkait untuk dapat mengelolanya. Sehingga manfaatnya sangat luar biasa, peningkatan penghasilan lumayan, bisa sekolahkan anak sampai kuliah juga,” jelasnya.
Muktamar juga mengaku kalau hasil budidaya mutiara Lombok sudah sering diekspor sampai luar negeri.
“Ekspor tergantung pesanan, bahkan sampai luar negeri dan dari Cina sering ke sini. Dikarenakan nilai jual Mutiara Lombok di pasaran dilihat dari besar maupun kecilnya Mutiara. Jika ada cacatnya bisa turun harganya. Jika bundar besar maka harganya bisa ratusan juta per biji,” tutupnya.
Reporter: bbn/lom
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5915 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4636 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2601 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2255 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2215 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan