Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 12 September 2026
Migrain sebelum Paruh Baya Tingkatkan Risiko Hipertensi Pascamenopause
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Perempuan yang mengalami migrain sebelum menopause mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena tekanan darah tinggi setelah menopause. Hal ini dinyatakan dalam penelitian yang diterbitkan pada jurnal Neurology, jurnal medis American Academy of Neurology.
"Migrain adalah gangguan yang melemahkan, seringkali mengakibatkan sakit kepala yang parah dalam sebulan, dan biasanya dialami lebih sering oleh perempuan daripada pria," kata penulis studi Gianluca Severi, Ph.D. dari Institut Riset Kesehatan dan Medis Nasional Prancis di Paris seperti yang dikutip dari Medical Xpress.
"Migrain paling banyak terjadi pada perempuan di tahun-tahun sebelum menopause. Setelah menopause, lebih sedikit perempuan yang mengalami migrain, namun hal ini terjadi ketika prevalensi tekanan darah tinggi pada perempuan meningkat," imbuhnya.
Menurut Severi, migrain merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, mereka ingin menentukan jika riwayat migrain dikaitkan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi setelah menopause.
Melansir dari Medical Xpress, studi tersebut melibatkan 56.202 perempuan yang tidak memiliki tekanan darah tinggi atau penyakit kardiovaskular pada usia ketika menopause mereka dimulai. Dari kelompok ini, 46.659 perempuan tidak pernah mengalami migrain dan 9.543 wanita pernah mengalami migrain.
Para perempuan ditindaklanjuti hingga 20 tahun dan menyelesaikan survei kesehatan setiap dua hingga tiga tahun. Pada akhir penelitian, 11.030 perempuan dilaporkan mengalami migrain.
Sebanyak 12.501 perempuan mengalami tekanan darah tinggi selama penelitian. Ini termasuk 9.401 perempuan tanpa migrain dan 3.100 perempuan dengan migrain.
Perempuan dengan migrain juga mengalami tekanan darah tinggi pada usia yang lebih muda dibandingkan perempuan tanpa migrain. Usia rata-rata diagnosis untuk perempuan tanpa migrain adalah 65 tahun dan untuk perempuan dengan migrain adalah 63 tahun.
Setelah menyesuaikan faktor-faktor seperti indeks massa tubuh , tingkat aktivitas fisik, dan riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular. Peneliti menemukan bahwa perempuan yang mengalami migrain sebelum menopause memiliki risiko 29 persen lebih tinggi terkena tekanan darah tinggi setelah menopause.
Peneliti menemukan risiko terkena tekanan darah tinggi serupa pada perempuan migrain dengan aura dan tanpa migrain.
"Ada banyak cara di mana migrain dapat dikaitkan dengan tekanan darah tinggi," kata Severi.
Studi tersebut tidak menunjukkan bahwa migrain menyebabkan tekanan darah tinggi setelah menopause. Ini hanya menunjukkan hubungan antara keduanya.
Keterbatasan penelitian ini adalah migrain dilaporkan sendiri oleh perempuan dan mungkin salah diklasifikasikan. Tekanan darah tinggi juga dilaporkan sendiri, yang berarti beberapa kasus mungkin terlewat.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3326 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 792 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 735 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan