Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
7 Gejala Varian Omicron yang Berbeda dengan Delta
BERITABALI.COM, DUNIA.
Varian Omicron disebut para ahli menimbulkan gejala yang berbeda dan cenderung ringan, tapi cukup berbahaya. Apalagi, varian baru virus corona Covid-19 ini memiliki mutasi yang lebih banyak dan berbahaya dibandingkan varian Delta.
Dr Angelique Coetzee, ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan adalah orang pertama yang mengingatkan bahaya gejala varian Omicron. Menurutnya, gejala varian Omicron ini cukup ringan.
Dr Coetzee bercerita pernah merawat seorang pasien yang menunjukkan gejala tak biasa dan berbeda dengan varian Delta, jenis virus corona Covid-19 yang sempat dominan dan mengkhawatirkan.
Ia menceritakan seorang pasien pria usia 33 tahun yang kondisinya sangat lemah selama beberapa hari terakhir. Ia mengatakan bahwa pasien itu tidak mengalami sakit tenggorokan, tetapi tenggorokannya terasa gatal.
Ia pun menjabarkan beberapa gejala yang mungkin berkaitan dengan varian Omicron, meliputi:
- Kelelahan ekstrem
- Demam
- Pegal-pegal
- Sakit kepala
- Keringat malam
- Pilek
- Tenggorokan gatal
Unben Pillay, seorang dokter umum yang berpraktik di Midrand, Johannesburg, mengatakan semantara ini kasus varian Omicron yang masih terlihat ringan.
"Kami melihat pasien mengalami demam, keringat malam, dan nyeri tubuh," kata Unben Pillay dikutip dari Express.
Pasien menunjukkan varian Omicron juga tidak memicu gejala berupa batuk terus-menerus atau kehilangan indra penciuman atau perasa, yang merupakan gejala umum virus corona Covid-19 sebelumnya.
Salah satu penyebab gejala varian Omicron ini berbeda dengan varian Delta adalah perubahan cara virus berinteraksi dengan sel kekebalan.
Banyak gejala penyakit umum, seperti demam atau pilek, terutama disebabkan oleh respons imun kita terhadap infeksi daripada kerusakan langsung oleh virus atau bakteri.
Perbedaan respons imun kita juga bisa menjadi penyebab dua varian virus corona itu tidak menimbulkan gejala yang sama.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan akan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memahami cara kerja varian Omicron dan efektivitas vaksin Covid-19 untuk melawannya.
Pengamatan awal Dr Coetzee hanya didasarkan pada sejumlah kecil kasus dan para ahli khawatir tentang sejumlah besar mutasi Omicron. Bukti awal menunjukkan strain memiliki peningkatan risiko infeksi ulang.
Sumber: Suara.com
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2797 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2029 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1970 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1802 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun