Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
14 Tahun Wafatnya Presiden Soeharto, Sosok yang Menganut Filosofi Jawa
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Tepat pada hari ini 14 tahun yang lalu, Presiden Soeharto meninggal dunia. Selama hidupnya, Soeharto dikenal sebagai salah satu pemimpin yang begitu teguh memegang nilai-nilai filosofi Jawa.
Baca juga:
RI Masih Punya 128 Titik
Sosok Soeharto kembali terkenang setelah putri sulungnya, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto), mencuit soal 14 tahun kepergian ayahnya.
Tutut meminta doa untuk ayahnya tersebut.??"Assalaamualaikum Wr. Wb. Sahabat, tanggal 27 Januari 2022 ini tepat 14 tahun, Bapak, Presiden Soeharto, wafat.
Mohon doanya semoga diampuni kesalahan, diterima amal baiknya, diberi tempat terbaik di sisi-Nya," tulis Tutut melalui akun Twitter @TututSoeharto49, Kamis (27/1/2022).
Tak lupa, Tutut juga menyertakan video bincang-bincang Soeharto dengan anak-anak di Pekan Tabungan tahun 1995. Dalam video tersebut, Soeharto berbicara tentang pembentukan watak.
Soeharto dan Filosofi Jawa
Omong-omong soal pembentukan watak, sosok Soeharto tak terlepas dari ajaran Filosofi Jawa. Filosofi Jawa termasuk nilai-nilai yang membentuk wataknya hingga menjadi pemimpin nomor satu di Indonesia kala itu.
Soeharto lahir 8 Juni 1921. Ia berasal dari keluarga kurang mampu di Desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, sebelah barat Kota Yogyakarta. Di masa inilah Soeharto sempat mengecap pahitnya hidup.
Meskipun begitu, ayah Soeharto, Kertosudiro, percaya bahwa hidup anaknya akan lebih baik suatu hari kelak. Sebab, nama 'Soe' yang artinya lebih baik dan 'Harto' yang artinya kekayaan adalah doa orang tuanya.
Ketika usianya beranjak dewasa, Soeharto kemudian dititipkan kepada pamannya di Wuryantoro. Di sana ia belajar bertani. Selain bertani, di rumah pamannya ini juga Soeharto memupuk kecintaannya pada filosofi hidup orang Jawa.
Salah satu ajaran yang terus ia amalkan ialah soal tiga ajaran tentang tiga 'aja'. Tiga 'aja' itu aja kagetan, aja gumunan, dan aja dumeh (jangan kagetan, jangan gampang heran, dan jangan sombong).
Selain itu, Soeharto memegang teguh ajaran hormat kalawan Gusti, guru, ratu, lan wong atuwo (hormat kepada Tuhan, guru, pemerintah, dan kedua orang tua). Soeharto juga rutin dikenalkan dengan penempaan spiritual budaya Islam dan Jawa. Misalnya seperti kegiatan puasa Senin-Kamis.
Dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan pengalamannya selama di Wuryantoro ini sangat berpengaruh para pembentukan karakternya, baik sebagai pemimpin negara maupun sebagai kepala rumah tangga. Bahkan Soeharto bisa menjadi Presiden Indonesia selama 32 tahun.
Tahun 2008, kondisi kesehatan Soeharto terus menurun. Soeharto meninggal pada 27 Januari 2008. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Astana Giribangun yang terletak di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah. (detik.com)
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5932 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2270 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan