Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Wadu Pa'a, Situs Peninggalan Agama Budha di Bima
BERITABALI.COM, NTB.
Situs Wadu Pa'a, atau Batu Pahat merupakan salah satu situs candi tebing yang berada di Desa Kananta Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Masyarakat Bima mayoritas beragama Islam. Namun diperkirakan sebelumnya, pernah ada masuk pengaruh Buddha. Ini terbukti dengan adanya warisan budaya yang dikenal dengan sebutan Wadu Pa'a.
Wadu Pa'a sendiri dalam bahasa suku Mbojo terbagi menjadi dua kata yakni Wadu Pa'a. Bila diartikan dalam Bahasa Indonesia menjadi Batu untuk Wadu dan Pahat untuk Pa'a. Jadi Wadu Pa'a adalah Batu yang dipahat.
Ukiran - ukiran pada Wadu Pa'a mengandung nilai seni ukir yang sangat tinggi karena media ukirannya bukan batu biasa. Melainkan tebing -tebing batu yang berbentuk Stupa dan terdapat ukiran bercorak Sang Buddha, persis seperti relief yang ada di Candi Borobudur.
Konon ceritanya pada masa lampau, tepatnya pada abad ke-11. Batu itu dipahat dua orang bersaudara yakni Indra Zamrud dan Indra Komala yang merupakan anak bangsawan dari Kerajaan Majapahit, Jawa Timur yang bernama Sang Bima, buah perkawinan dari salah satu putri seorang Ncuhi. Ncuhi waktu itu sebutan pemimpin suatu wilayah di Bima atau Kepala Suku sebelum zaman kerajaan.
Budayawan Bima, Alan Malingi dalam bukunya "Legenda Tanah Bima, " yang mendeskripsikan di blog "Romantik Bima" menceritakan, saat Sang Bima Hendak meninggalkan tanah Bima, dia didatangi oleh para Ncuhi untuk diminta kesediaan menjadi pemimpin tanah Bima. Pada saat itu, Sang Bima sedang memahat tebing kaki bukit Lembo, Dusun Sowa, Desa Kananta, kecamatan Soromandi, yang akhirnya tenar dengan Wadu Pa'a.
Masih dalam tulisannya, Alan Malingi mengurai, dari berbagai literatur sejarah, situs Wadu Pa'a merupakan salah satu situ Candi Tebing yang memiliki nilai historis yang cukup tinggi. Wadu Pa'a merupakan tempat pemujaan agama Buddha, atau mengandung unsur Buddha dan Siwa.
Hal itu diperkuat dengan ditemukannya relief Ganesha, Mahaguru, Lingga - Yoni, relief Buddha (Bumi Sparsa Mudra) termasuk stupa yang menyerupai bentuk stupa Goa Gajah di Bali atau stupa - stupa di Candi Borobudur yang berasal dari abad X.
Hal itu didukung dengan terteranya Candrasangkala pada prasasti yang berbunyi "Saka Waisaka Purnamasidi atau tahun 631 Caka Masehi".
Terlepas dari cerita itu yang jelas Wadu Pa'a merupakan destinasi wisata budaya yang cukup potensial. Tidak saja bagi Kabupaten Bima, tetapi juga bagi NTB.
Beberapa bentuk pahatan yang bernilai seni rupa yang indah dan mempesona. Letaknya juga berada di dalam sebuah teluk kecil yang menjadi persinggahan perahu nelayan saat gelombang besar di perairan laut Flores. Masyarakat sekitar menyebutkan So Wadu Pa'a atau Teluk Batu Pahat.
Keberadaan situs ini juga menjadi andalan destinasi wisata Kabupaten Bima.
Reporter: bbn/lom
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5933 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2614 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2272 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan