Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 12 September 2026
Turki Bubarkan Pawai LGBT Tanpa Izin
BERITABALI.COM, DUNIA.
Polisi Turki membubarkan pawai perayaan komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) atau Pride di Istanbul dan menahan lebih dari 200 demonstran, Minggu (26/6). Gubernur Istanbul telah melarang pawai tersebut yang berlangsung di sekitar Taksim Square di jantung kota.
Namun, pawai itu tetap berlangsung yang dihadiri ratusan orang dengan pengawalan ketat kepolisian. Polisi pun segera menahan para pengunjuk rasa dan mengangkut mereka ke sejumlah bus mereka ke bus. Wartawan AFP melihat empat bus berisi ratusan orang yang ditahan.
Organisasi penyelenggara pawai mengklaim lebih dari 200 peserta Pride dan aktivis LGBTQ telah ditahan. Polisi, katanya, juga menolak memberikan akses pengacara bagi ratusan peserta pawai yang ditahan tersebut.
Puluhan pedemo LGBT itu sudah ada yang dibebaskan. Satu dari ratusan demonstran yang ditahan itu ialah kepala fotografer AFP, Bulent Kilic. Ia dibawa pergi dengan tangan diborgol dari belakang dan dibebaskan pada Minggu malam setelah memberikan pernyataan kepada polisi, kata pengacaranya.
Polisi mencegah mediamerekam penangkapan Istanbul, menurut wartawan AFP. Meski telah dibubarkan, ratusan pengunjuk rasa lain masih berusaha berdemonstrasi sambil membawa bendera pelangi sambil menghadapi barikade polisi.
"Masa depan ini unik. Kami di sini. Kami unik. Kami tidak akan ke mana-mana," teriak mereka.
Penahanan para pedemo ini pun memicu perhatian internasional, terutama dari kelompok pemerhati HAM dan hak kaum LGBT.
"Semua yang ditahan semata-mata karena partisipasi mereka dalam Pride harus segera dibebaskan dan tanpa syarat," kata Milena Buyum dari Amnesty International.
Diren, seorang mahasiswa Turki berusia 22 tahun, mengutuk kejahatan kebencian yang menargetkan orang-orang LGBTQ.
"Kami dilarang, dicegah, didiskriminasi, dan bahkan dibunuh setiap detik dalam hidup kami. Hari ini, adalah hari yang sangat istimewa bagi kami untuk membela hak-hak kami dan untuk mengatakan bahwa kami memang ada," kata Diren kepada AFP.
"Kekerasan polisi bertujuan untuk menghentikan kami, tetapi itu tidak mungkin. Anda tidak akan bisa menghentikan para queer."
Erol Onderoglu dari kelompok hak media Reporters Without Borders (RSF) mengecam penangkapan fotografer Kilic di Twitter.
"Polisi tampaknya telah membuat kebiasaan untuk menahannya," tulisnya. Kilic juga pernah ditahan polisi Turki tahun lalu.
Pada hari Jumat, Komisaris Dewan Eropa untuk Hak Asasi Manusia, Dunja Mijatovic, telah mendesak pihak berwenang Turki untuk membiarkan demonstrasi berlanjut dan memastikan keselamatan para pengunjuk rasa.
"Hak asasi manusia LGBT di Turki perlu dilindungi secara efektif," katanya dalam sebuah pernyataan.
Meskipun homoseksualitas telah legal selama periode Republik Turki modern, komunitas LGBTQ di negara itu mengatakan masih menerima pelecehan dan diskriminasi secara sistematis. Istanbul Pride telah berlangsung setiap tahun sejak 2003.
Pawai terakhir yang berlangsung tanpa larangan adalah pada 2014. Pawai tersebut menjadi parade LGBT terbesar yang menarik puluhan ribu peserta di negara mayoritas Muslim.
Setelah 2014, pawai dilarang setiap tahun karena alasan keamanan.(sumber: cnnindonesia.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3318 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 786 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 726 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan