Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Turki Bubarkan Pawai LGBT Tanpa Izin
BERITABALI.COM, DUNIA.
Polisi Turki membubarkan pawai perayaan komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) atau Pride di Istanbul dan menahan lebih dari 200 demonstran, Minggu (26/6). Gubernur Istanbul telah melarang pawai tersebut yang berlangsung di sekitar Taksim Square di jantung kota.
Namun, pawai itu tetap berlangsung yang dihadiri ratusan orang dengan pengawalan ketat kepolisian. Polisi pun segera menahan para pengunjuk rasa dan mengangkut mereka ke sejumlah bus mereka ke bus. Wartawan AFP melihat empat bus berisi ratusan orang yang ditahan.
Organisasi penyelenggara pawai mengklaim lebih dari 200 peserta Pride dan aktivis LGBTQ telah ditahan. Polisi, katanya, juga menolak memberikan akses pengacara bagi ratusan peserta pawai yang ditahan tersebut.
Puluhan pedemo LGBT itu sudah ada yang dibebaskan. Satu dari ratusan demonstran yang ditahan itu ialah kepala fotografer AFP, Bulent Kilic. Ia dibawa pergi dengan tangan diborgol dari belakang dan dibebaskan pada Minggu malam setelah memberikan pernyataan kepada polisi, kata pengacaranya.
Polisi mencegah mediamerekam penangkapan Istanbul, menurut wartawan AFP. Meski telah dibubarkan, ratusan pengunjuk rasa lain masih berusaha berdemonstrasi sambil membawa bendera pelangi sambil menghadapi barikade polisi.
"Masa depan ini unik. Kami di sini. Kami unik. Kami tidak akan ke mana-mana," teriak mereka.
Penahanan para pedemo ini pun memicu perhatian internasional, terutama dari kelompok pemerhati HAM dan hak kaum LGBT.
"Semua yang ditahan semata-mata karena partisipasi mereka dalam Pride harus segera dibebaskan dan tanpa syarat," kata Milena Buyum dari Amnesty International.
Diren, seorang mahasiswa Turki berusia 22 tahun, mengutuk kejahatan kebencian yang menargetkan orang-orang LGBTQ.
"Kami dilarang, dicegah, didiskriminasi, dan bahkan dibunuh setiap detik dalam hidup kami. Hari ini, adalah hari yang sangat istimewa bagi kami untuk membela hak-hak kami dan untuk mengatakan bahwa kami memang ada," kata Diren kepada AFP.
"Kekerasan polisi bertujuan untuk menghentikan kami, tetapi itu tidak mungkin. Anda tidak akan bisa menghentikan para queer."
Erol Onderoglu dari kelompok hak media Reporters Without Borders (RSF) mengecam penangkapan fotografer Kilic di Twitter.
"Polisi tampaknya telah membuat kebiasaan untuk menahannya," tulisnya. Kilic juga pernah ditahan polisi Turki tahun lalu.
Pada hari Jumat, Komisaris Dewan Eropa untuk Hak Asasi Manusia, Dunja Mijatovic, telah mendesak pihak berwenang Turki untuk membiarkan demonstrasi berlanjut dan memastikan keselamatan para pengunjuk rasa.
"Hak asasi manusia LGBT di Turki perlu dilindungi secara efektif," katanya dalam sebuah pernyataan.
Meskipun homoseksualitas telah legal selama periode Republik Turki modern, komunitas LGBTQ di negara itu mengatakan masih menerima pelecehan dan diskriminasi secara sistematis. Istanbul Pride telah berlangsung setiap tahun sejak 2003.
Pawai terakhir yang berlangsung tanpa larangan adalah pada 2014. Pawai tersebut menjadi parade LGBT terbesar yang menarik puluhan ribu peserta di negara mayoritas Muslim.
Setelah 2014, pawai dilarang setiap tahun karena alasan keamanan.(sumber: cnnindonesia.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5917 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4639 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2606 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2262 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2215 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan