Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Liuk Penari Legong Pemalukan Tampil Elegan di PKB
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sekaa Semara Pegulingan "Dharma Winangun”, Banjar Pemalukan, Kelurahan Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara, Duta Kota Denpasar tampil perdana, di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44, Selasa (5/7).
Pementasan pelegongan kali ini menampilkan empat garapan baik karawitan dan tarian. Para penabuh yang notabene kalangan generasi muda tampil elegan mengunakan kostum bawah kain warna merah, bagian atas baju berwarna putih.
Mereka tampil cekatan memainkan bilah-bilah gamelan saih Pitu (daun tujuh).
Persembahan pertama berupa garapan Tabuh Sumambang Bali, merupakan tabuh klasik yang berawal dari gending pegambuhan, kemudian ditransfer ke dalam Semara Pegulingan.
Adapun speksifikasi tabuh ini adalah sebagai tabuh petegak atau bersifat instrumentalis, yang mana jajar pageh komposisinya tidak jauh beda dengan gending-gending Semara Pegulingan lainnya.
Kemudian dilanjutkan Tari Legong Kuntul, tari ini menggambarkan karakteristik keanggunan sekelompok burung bangau/kokokan putih sebagaimana mereka melakukan kebiasaan sehari-hari dalam bercengkrama mencari makan, terbang diatas dengan formasi yang begitu indahnya dan bermain bersama ditengah hamparan sawah.
Sebuah tabuh kreasi berjudul Membah, disajikan apik, dengan mengambil inspirasi Air yang mengalir “Membah”, diimplementasikan penata untuk menuangkan ke dalam sebuah karya tabuh kreasi Semara Pagulingan yang dalam penuangannya disesuaikan dengan komposisi karawitan serta memanfaatkan seluruh unsur musikalitas yang tersusun secara harmonis.
Sebagai sajian terakhir dipungkasi dengan persembahan Tari Legong Tri Sakti. Tari Legong Tri Sakti dicetuskan oleh Ibu Bintang Puspayoga dengan pencipta tarinya adalah I Nyoman Suarsa. Tarian ini menggambarkan tentang pemahaman Agama Hindu terkait dengan Tri Sakti Brahma, Wisnu dan Siwa.
Ditarikan oleh 3 orang penari putri dengan mengenakan warna kostum, gelungan dan kipas yang berbeda yakni: warna merah melambangkan Brahma, putih melambangkan Siwa dan warna hitam melambangkan Wisnu.
Antusias pengunjung yang memadati Kalangan Ayodya luar biasa. Diantaranya dukungan langsung dari pejabat Kota Denpasar, tampak Walikota Denpasar IGN Jaya Negara didampingi Kadis Kebudayaan Kota Raka Purwantara, juga setia menonton pementasan hingga selesai.
Tampak totalitas penampil dalam suguhan perdananya di Kalangan Ayodya dipersiapkan dengan serius dan matang oleh duta seni Denpasar Utara itu. Mulai dari penataan panggung, yakni posisi barungan gamelan berlevel, lantas dipasangnya beberapa patung tarian ikonik berupa sosok penari legong, di sisi kanan dan kiri panggung, menghadirkan suasana cantik.
“Kami dengan bangga dan senang diberikan kesempatan tampil dalam ajang PKB tahun ini mewakili duta Kota Denpasar,” ujar pembina sekaa I Made Suwendra.
Seniman yang akrab disapa Made DEO itu tak menampik pementasannya kali ini benar-benar disiapkan dengan matang.
“Kami ingin tampil menghibur selain menghibur kami tak ingin unjuk kebolehan hanya sekadarnya, selain kemampuan penabuh dan penari kami totalitas ciptakan suasana berbeda dengan menata Kalangan Ayodya ini sedemikian rupa", jelasnya.
DEO menambahkan, Sekaa semara pegulingan ini terbentuk sejak 2017, untuk tampil di PKB ini proses persiapan dilakukan selama 5 bulan.
“Maklum anak-anak sulitnya soal waktu latihan saja, kadang ada yang sempat absen biasalah, tapi semangat anak-anak luar biasa," tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5902 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4629 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2593 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2239 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan