Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Oposisi Israel: Rekonsiliasi Saudi-Iran Simbol Kegagalan Netanyahu
BERITABALI.COM, DUNIA.
Oposisi Israel menganggap rekonsiliasi antara Arab Saudi dan Iran merupakan simbol kegagalan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Mereka menganggap Netanyahu gagal karena Saudi malah lebih dulu berdamai dengan Iran yang dikenal sebagai musuh bebuyutan mereka di kawasan.
Sejumlah politikus oposisi mengutarakan kekecewaannya karena selama ini, Israel juga mengupayakan normalisasi hubungan dengan Saudi melalui sistem kesepakatan yang dibantu Amerika Serikat, Abraham Accords.
"Ini merupakan kegagalan kebijakan luar negeri pemerintahan Israel yang berbahaya," ujar pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, seperti dikutip AFP.
Lapid juga berkata, "Ini merupakan keruntuhan tembok pertahanan kawasan yang kita bangun untuk melawan Iran."
Para oposisi pun menganggap Netanyahu lebih mementingkan program reformasi sistem peradilan yang jelas-jelas ditentang warga daripada kebijakan luar negeri Israel.
"Ini lah yang terjadi ketika Anda setiap hari sibuk dengan proyek peradilan gila ketimbang mengurus Iran," ucap Lapid.
Anggota parlemen lainnya dari kubu oposisi, Gideon Saar, juga mengolok-olok kegagalan Netanyahu dalam menangkal kemenangan Iran di kawasan.
"Netanyahu menjanjikan perdamaian dengan Arab Saudi. Pada akhirnya, mereka [Saudi] melakukannya dengan Iran," tutur Saar, sebagaimana dilansir Associated Press.
Kegagalan ini dianggap dapat memperburuk citra Netanyahu yang belakangan ini sudah terpuruk akibat rencananya mereformasi sistem peradilan.
Kebijakan luar negeri sendiri sebenarnya sempat menjadi program andalan Netanyahu, terutama Abraham Accords yang sempat dielu-elukan karena berhasil mendamaikan Israel dengan sejumlah negara Teluk.
Saudi disebut-sebut menjadi target utama Abraham Accords selanjutnya. Sejumlah sumber bahkan menyebut para pejabat Saudi dan Israel sudah kian dekat di bawah tanah.
Namun di permukaan, Saudi masih terus menegaskan bahwa mereka tak akan menormalisasi hubungan dengan Israel jika Palestina belum benar-benar merdeka.
Meski rekonsiliasi Iran dan Saudi mencoreng reputasi Netanyahu, sejumlah pakar ragu kesepakatan itu benar-benar dapat merugikan Israel.
Seorang pakar politik Saudi dari Universitas Birmingham, Umar Karim, mengatakan Saudi dan Iran akan tetap menjadi rival di kawasan meski mereka sepakat rujuk.
Sementara itu, Saudi masih dapat menjalin hubungan mendalam bersama Israel sembari menjaga relasi transaksional dengan Iran.
"Pembicaraan bawah tanah antara Saudi dan Israel akan berlanjut. Kepemimpinan Saudi akan menerapkan lebih dari satu cara untuk mempertahankan keamanan nasionalnya," ucap Karim.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5933 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2617 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2272 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan