Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Fenomena Baru di Paris, Warga Harus Hidup Damai dengan Tikus
BERITABALI.COM, DUNIA.
Muncul kabar buruk bagi warga Paris, Prancis. Pasalnya sekitar enam juta tikus diperkirakan hidup di kota dan warga terpaksa harus hidup damai dengan hewan pengerat tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Paris Anne Hidalgo. Ia berencana membentuk sebuah komite untuk menyelidiki apakah warga di ibu kota Prancis harus belajar hidup berdampingan dengan tikus atau tetap berupaya memusnahkan salah satu hewan hama itu.
"Dengan panduan dari wali kota, kami telah memutuskan untuk membentuk sebuah komite untuk masalah kohabitasi," kata Anne Souyris, wakil Wali Kota Paris untuk kesehatan masyarakat, pada pertemuan Dewan Paris pekan lalu, seperti dikutip RT, Selasa (13/6/2023).
Kebijakan yang baru diumumkan ini merupakan perubahan signifikan dari aturan yang diterapkan di Paris sebelumnya untuk mengatasi jutaan tikus. Di 2017, ibu kota sempat menyalurkan US$1,8 juta (sekitar Rp26,7 miliar) dana ke berbagai kebijakan anti-tikus seperti pemasangan tempat sampah kedap udara dan penggunaan racun tikus dalam skala besar di ribuan lokasi di seluruh wilayah.
Masalah tikus diperkirakan telah diperburuk oleh protes reformasi pensiun belum lama ini di Paris. Demo terus-menerus menyebabkan sampah tidak terkumpul di jalan-jalan kota selama berminggu-minggu.
Dengan populasi tikus Paris masih melebihi jumlah manusia dengan rasio sekitar 3:1, aturan baru pun sedang dipertimbangkan. Souyris mengatakan komite akan menetapkan cara "paling efisien" bagi warga Paris dan tikus untuk hidup berdampingan.
Beberapa kelompok hak hewan menyambut rencana baru. Mereka menilai metode pengendalian efektif. "Metode baru penting," kata Paris Animal Zoopolis.
Namun kritikusmenilai rencana tersebut tak memberi solusi. "Paris pantas mendapatkan yang lebih baik," tweet politisi Geoffroy Boulard,
Paris telah lama memiliki hubungan dengan hama. Tikus sebagian besar bertanggung jawab atas penyebaran penyakit pes, yang membunuh setengah dari populasi kota pada abad ke-14. Namun, hewan tersebut juga membantu warga mencegah kelaparan selama Pengepungan Paris tahun 1870-1871 dalam perang Prancis-Prusia.
Paris tidak sendirian dalam mencoba merancang metode baru untuk mengatasi masalah lama seperti infestasi tikus. New York di Amerika Serikat (AS) membentuk 'tsar tikus' pertamanya pada April untuk menangani masalah populasi hewan pengeratnya sendiri, sementara kota Toulouse di Prancis menggunakan musang untuk membantu mengendalikan populasi tikus.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5926 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4647 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2270 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan