Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Penari Joged Bumbung Dibatalkan Sepihak, Netizen Teringat Diskriminasi MC Era Koster
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Viral di media sosial penari joged bumbung menangis tersedu-sedu di jalan setelah mendapatkan pembatalan sepihak saat diagendakan tampil dalam acara kampanye calon gubernur Bali Wayan Koster.
Hal ini memicu perdebatan di kalangan netizen dan kembali mengingatkan pada kasus MC Putu Dessy Fridayanthi, atau akrab disapa Ecy, yang pernah mengalami nasib serupa pada tahun 2021 ketika Koster menjabat sebagai Gubernur Bali.
Ecy, yang dikenal sebagai MC di berbagai acara, sebelumnya mengungkapkan kekecewaannya melalui media sosial saat dilarang tampil di panggung utama dalam sebuah acara kementerian. Larangan tersebut, menurut Ecy, merupakan bentuk diskriminasi gender yang mengekang hak perempuan untuk berpartisipasi secara setara dalam dunia kerja, khususnya di industri seni pertunjukan.
Dalam pengalamannya, Ecy dijadwalkan menjadi MC di sebuah acara yang melibatkan sejumlah tokoh penting, namun satu jam sebelum acara dimulai, ia diberitahu bahwa ia tidak diperbolehkan tampil di depan umum. Keputusan tersebut, yang diambil berdasarkan instruksi langsung dari Gubernur Koster, membuat Ecy merasa terpinggirkan dan dianggap tidak layak untuk berpartisipasi di panggung yang sama dengan rekan-rekan pria.
Kasus ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Sejak Koster menjabat sebagai Gubernur, banyak pekerja seni perempuan yang mengeluhkan perlakuan serupa. Ecy menyatakan bahwa kebijakan ini tidak memiliki dasar budaya Bali, yang justru dikenal menghargai peran perempuan dalam seni dan budaya.
Ecy meminta agar Pemerintah Provinsi Bali dan Gubernur Koster memberikan penjelasan mengenai kebijakan ini dan menekankan pentingnya kesetaraan gender di semua sektor pekerjaan. Ia juga mengingatkan bahwa situasi ini sangat berdampak pada perekonomian pekerja seni, terutama di tengah masa pemulihan pasca-pandemi.
“Pekerja seni perempuan memiliki hak yang sama untuk berkarier. Diskriminasi ini bukan hanya mengurangi kesempatan kami, tetapi juga menciptakan kesan bahwa perempuan tidak memiliki nilai di bidang ini,” tegas Ecy dalam sebuah wawancara.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5943 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4656 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2629 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2282 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2222 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan