Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 Juli 2026
Penari Joged Bumbung Dibatalkan Sepihak, Netizen Teringat Diskriminasi MC Era Koster
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Viral di media sosial penari joged bumbung menangis tersedu-sedu di jalan setelah mendapatkan pembatalan sepihak saat diagendakan tampil dalam acara kampanye calon gubernur Bali Wayan Koster.
Hal ini memicu perdebatan di kalangan netizen dan kembali mengingatkan pada kasus MC Putu Dessy Fridayanthi, atau akrab disapa Ecy, yang pernah mengalami nasib serupa pada tahun 2021 ketika Koster menjabat sebagai Gubernur Bali.
Ecy, yang dikenal sebagai MC di berbagai acara, sebelumnya mengungkapkan kekecewaannya melalui media sosial saat dilarang tampil di panggung utama dalam sebuah acara kementerian. Larangan tersebut, menurut Ecy, merupakan bentuk diskriminasi gender yang mengekang hak perempuan untuk berpartisipasi secara setara dalam dunia kerja, khususnya di industri seni pertunjukan.
Dalam pengalamannya, Ecy dijadwalkan menjadi MC di sebuah acara yang melibatkan sejumlah tokoh penting, namun satu jam sebelum acara dimulai, ia diberitahu bahwa ia tidak diperbolehkan tampil di depan umum. Keputusan tersebut, yang diambil berdasarkan instruksi langsung dari Gubernur Koster, membuat Ecy merasa terpinggirkan dan dianggap tidak layak untuk berpartisipasi di panggung yang sama dengan rekan-rekan pria.
Kasus ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Sejak Koster menjabat sebagai Gubernur, banyak pekerja seni perempuan yang mengeluhkan perlakuan serupa. Ecy menyatakan bahwa kebijakan ini tidak memiliki dasar budaya Bali, yang justru dikenal menghargai peran perempuan dalam seni dan budaya.
Ecy meminta agar Pemerintah Provinsi Bali dan Gubernur Koster memberikan penjelasan mengenai kebijakan ini dan menekankan pentingnya kesetaraan gender di semua sektor pekerjaan. Ia juga mengingatkan bahwa situasi ini sangat berdampak pada perekonomian pekerja seni, terutama di tengah masa pemulihan pasca-pandemi.
“Pekerja seni perempuan memiliki hak yang sama untuk berkarier. Diskriminasi ini bukan hanya mengurangi kesempatan kami, tetapi juga menciptakan kesan bahwa perempuan tidak memiliki nilai di bidang ini,” tegas Ecy dalam sebuah wawancara.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3872 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 1989 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1860 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1760 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1533 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun