Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Tradisi Napak Pertiwi Desa Kiadan Plaga Warnai PKB 2025
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sekaa Gong Ejo Bang, Desa Adat Kiadan, Desa Plaga, Kecamatan Petang, Badung tampil memukau membawakan tradisi sakral "Napak Pertiwi" di Kalangan Angsoka, Art Center, Denpasar dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025, Kamis (3/7/2025).
Napak Pertiwi merupakan warisan tradisi turun-temurun masyarakat Desa Adat Kiadan, Plaga. Salah satu puncak prosesi sakralnya adalah tarian "Ida Bathara Ratu Sesuhunan" yang ditampilkan dalam wujud Barong dan Rangda.
Dalam PKB 2025, Sekaa Gong Ejo Bang mengemas tradisi ini menjadi garapan seni tradisi yang mewakili Kabupaten Badung.
Menurut Penata Kerawitan, I Putu Sopyarta, S.Sn, pertunjukan ini mengangkat kekayaan spiritual, estetika, dan budaya masyarakat Desa Adat Kiadan melalui perpaduan tabuh dan tari sakral penuh makna.
Diawali dengan Tabuh Petegak Bebarongan "Dangsil", pertunjukan ini mengangkat filosofi persembahan Dangsil sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen dan kesuburan alam. Dangsil yang dibuat dari anyaman bambu, dihiasi sesajen, diwujudkan dalam komposisi musikal petegak yang terdiri dari bagian kawitan, pengawak, dan pengecet.
Selanjutnya ditampilkan Tari Pendet Pemendak Ratu, persembahan suci untuk menyambut kehadiran Ida Bhatara saat prosesi Napak Pertiwi.
"Tarian ini berfungsi sebagai ritual penyucian arena pementasan, diawali oleh tokoh penasar wijil yang membawakan kisah tentang kearifan lokal dan pentingnya pelestarian budaya di Desa Adat Kiadan," ujar Sopyarta.
Sebagai penutup, hadir Tari Telek Badung yang mengisahkan kosmis tentang turunnya Sang Hyang Tri Semaya untuk meredam kekuatan Dewi Durga dan Kala Ludra di Setra Gandamayu. Dewa Brahma menjelma sebagai Jauk, Dewa Wisnu sebagai Telek, dan Dewa Iswara sebagai Barong demi menjaga keseimbangan alam.
"Karya ini menjadi simbol perlindungan spiritual dan keseimbangan semesta," katanya.
Sopyarta menambahkan, ketiga karya tersebut berpadu dalam satu suguhan artistik dan spiritual yang mencerminkan ketulusan bhakti, harmoni kosmis, serta jati diri budaya Desa Adat Kiadan. Ia juga menyebut, persiapan pementasan ini sudah dilakukan sejak tiga bulan lalu.
"Total seniman yang terlibat dalam kegiatan ini sebanyak 50 orang yang terdiri dari penari dan penabuh," tukasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: Diskominfo Badung
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5906 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4631 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2595 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2240 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan